Kalian mungkin akan cenderung menghindari sesuatu yang menimbulkan masalah, kan? Namun, bagi siswa kelas akselerasi di SMP Labschool Kebayoran, masalah adalah sumber pembelajaran mereka.
Salah satu teman kita yang melakukan hal tersebut adalah Ali Hasman Pahlevi, yang saat ini berada dikelas 9F dan mengikuti program Problem Based Learning. Dia menulis soal Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro atau disingkat dengan PLTMH.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ali, pembangkit listrik mini hydro dirasakan cukup untuk menjadi energi alternatif yang memiliki emisi dan zat limbah yang sangat minim.
Mini hydro merupakan pembangkit listrik tenaga air dengan berkapasitas lebih dari 1 Megawatt (MW) namun masih di bawah 10 MW.
Prinsip kerjanya tidak jauh berbeda dengan PLTA yang memanfaatkan aliran air dengan membangun bendungan. Namun karena energi yang rendah membuat mini hydro lebih ramah lingkungan.
Terlebih Indonesia merupakan negara yang memiliki aliran sungai sebanyak 7.956 aliran dan 512 danau yang baru dimanfaatkan sekitar 7,54 persen saja. Padahal dalam pemanfaatannya energi mini hydro dapat menghasilkan tenaga listrik mencapai 75.000 MW.
Selain itu, pompa mini hydro terbukti menghasilkan emisi GHG (Green House Gasses) 30-60 kali lebih rendah dari pembangkit tenaga listrik uap yang paling banyak digunakan di Indonesia.
Dari hasil penelitiannya, Ali mengaku ingin ke depannya Indonesia dapat memaksimalkan pemanfaatan pompa mini hydro sehingga menciptakan pemanfaatan energi yang tidak lagi merusak lingkungan. (ded/ded)