Di eropa, ribuan orang mati kelaparan akibat gagal panen yang dikarenakan amukan tambora. Perubahan iklim menjadi penyebab para petani di eropa pada saat itu mengalami gagal panen. Selama satu tahun, eropa tidak mengalami musim panas semenjak letusan maha dahsyat itu.
Kali ini tambora menguncang dunia bukan dengan amukannya yang dahsyat namun dengan sejuta keindahhannya. Gunung dengan luas bentangan kaldera 6,2 kilometer dan memiliki kedalaman hingga 1.100 meter ini memiliki keanekaragaman flora dan fauna di dalamnya. Gunung ini merupakan habitat bagi berbagai satwa. Diantaranya mulai dari kelas Mamalia (rusa timor), Reptil (kadal pohon) hingga Primata (kera abu).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun lalu di bulan April 2015 pemerintah meresmikan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional Indonesia. Pada saat itu bertepatan dengan 200 tahun meletusnya gunung tambora. Kemudian pemerintah memanfaatkan moment tersebut untuk menggelar event tahunan guna mengenang letusan maha dahsyat tersebut.
Berbagai macam acara digelar dalam festival ini. Di antaranya: Peziarahan Tambora, Lintas Sumbawa (acara lari maraton melintasi jalan raya pulau Sumbawa selama 72 jam), Tambora Ultra (acara trail run di gunung tambora), Tambora Bike Camp (bersepeda melintasi pulau sumbawa dengan konsep touring dan berkemah) serta Pentas Musik dan Seni Budaya yang diisi oleh para seniman nasional dan lokal.
Ini merupakan event yang perlu didukung bersama. Terlebih lagi di tahun 2020 nanti NTB diprediksi akan menjadi pusat pariwisata dunia. Momentum ini harus dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan dengan sebaik mungkin oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Sehingga nantinya akan berdampak pada peningkatan perekonomian daerah dan masyarakat setempat.
Dengan keberadaan event ini diharapkan agar dapat memperkenalkan pariwisata NTB ke dunia. Diharapkan juga agar dapat meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang berkunjung ke NTB dan Indonesia pada umumnya. (ded/ded)