Gurun pasir ini terletak di 47 kilometer dari kota Tanjung Pinang, yang memakan waktu 40 hingga 60 menit perjalanan darat. Tidak ada transportasi umum ke daerah ini, jadi jika kamu ingin berkunjung kemari harus membawa kendaraan pribadi.
Gurun pasir ini bukan asli buatan alam, melainkan faktor manusia. Menurut warga lokal, lahan ini dulunya adalah tempat penambangan pasir untuk diekspor ke Singapura, yang digunakan sebagai material proyek reklamasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya perhatian pemerintah setempat masih sangat minim. Padahal jika dikelola dengan baik, spot ini bisa menjadi daya tarik dari Riau. Tak kalah dengan gumuk pasir di Yogyakarta.
Para mahasiswa ini mencoba mengundang beberapa aparat terkait untuk duduk bersama membahas masa depan gurun pasir kebanggaan warga Busung ini.
O iya, tentang gurun pasir lain di Indonesia, yang sudah lama terkenal di Indonesia adalah Gumuk Pasir di dekat Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Gumuk Pasir ini adalah fenomena alam yang terbentuk akibat pergerakan angin, memiliki panjang 15,7 kilometer dari hilir Sungai Opak ke Parangtritis.
Jadi, angin membawa pasir dari material gunung Merapi yang kemudian terbang ke arah laut dan menyatu dengan lautan. Kemudian lautan menghempaskannya ke pantai dan menjadi bukit pasir seperti yang terlihat kini.
Banyak ahli yang sudah meneliti Gumuk Pasir sebab keunikannya. Antara lain, temperatur di sini juga ekstrem perbedaannya antara siang dan malam. Kalau pada siang sangat panas, maka pada malam hari akan sangat dingin. (ded/ded)