Ekspedisi ini akan menerbangkan pesawat Ai-X1 buatan AeroTerrascan ke langit setinggi 30 kilometer dengan balon udara. Tujuannya untuk mendukung eksplorasi stratosfer dan mengembangkan riset aeronautika Indonesia.
Diharapkan, ekspedisi ini juga akan menjadi sarana pengujian UAV yang mampu melakukan return-to-home alias turun ke tempat peluncuran dan bisa dipakai kembali. Selama ini alat penelitian atmosfer biasanya tak bisa kembali ke tempat awal peluncuran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspedisi Menembus Langit merupakan uji coba terbang pertama menuju stratosfer di Indonesia dan akan menjadi rekor nasional. “Menembus Langit akan memberikan informasi mengenai dinamika atmosfer di stratosfer. Pemahaman ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi High Altitude Long Endurance (HALE) yang tidak terganggu oleh awan,” kata Prof. Dr. Thomas Djamaluddin M.Sc., Kepala LAPAN, dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Peluncuran ekspedisi Menembus Langit sendiri akan dilakukan pada 28 Oktober mendatang di Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer LAPAN, di Pameungpeuk, Garut. Tapi sebelum itu, tim sudah melakukan percobaan terbang dengan purwarupa Ai-X1 pada 27 Agustus lalu.
Pada penerbangan percobaan itu Ai-X1 diterbangkan dengan balon cuaca. Dalam pendakiannya, rata-rata vertical speed-nya 6m/s. Pada ketinggian 12,9 kilometer Ai-X1 lepas dari balon cuaca dan berhasil menstabilkan diri dengan bantuan autopilot. Ai-X1 secara konstan melakukan komunikasi ke pengontrol di darat.
Tentang Ai-X1
Pesawat tanpa awak Ai-X1 (dok. Menembus Langit) |
“Fitur return-to-home merupakan salah satu strategi yang kami siapkan agar UAV bisa kembali. Hal ini untuk antisipasi apabila UAV kehilangan sinyal ketika sedang melakukan suatu misi,” ujar Seno Sahisnu dari tim Menembus Langit.
Tubuh pesawat yang terbuat dari fiber composite ini sudah disesuaikan dengan kondisi stratosfer yang temperaturnya lebih dingin dan udara renggang.
Tim mempersiapkan berbagai skenario failsafe. Misalnya, untuk melepaskan pesawat dari balon ada 4 pemicu yang dipersiapkan, seperti altitude limit, akselerasi vertikal, timer, dan manual. Jika salah satu terpenuhi, maka pesawat akan melepaskan diri dari balon dengan aman.
“Jadi kalaupun kita kehilangan sinyal secara total, kita tinggal menunggu sampai UAV-nya pulang sendiri,“ ujar Azhar T. Pangesti Program Director Menembus Langit.
Dalam pengujian, Ai-X1 mampu bertahan pada temperatur -150 derajat Celcius. Pesawat bertenaga baterai lithium polymer 5500 mAh ini mampu kembali ke tempat peluncuran dengan hanya menggunakan 10 persen kapasitas baterainya. (ded/ded)
Pesawat tanpa awak Ai-X1 (dok. Menembus Langit)