Thorium ini berbentuk padat, seperti kristal dan mineral lain, warnyanya keperakan. Keberadannya di alam sangat melimpah, apalagi di negara kita, Indonesia. Sama seperti Thor si dewa petir, thorium ini juga punya kekuatan atau potensi yang begitu besar lho teman.
Pada 2014 lalu Ir. Yudiutomo Imardjoko, M.Sc., PhD mantan direktur utama PT. BATAN Teknolgi yang juga dosen dan peneliti nuklir dari Universitas Gadjah Mada menemukan potensi thorium yang sangat besar di daerah Bangka. Ternyata unsur thorium ditemukan pada limbah timah yang banyak diproduksi di pulau Bangka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu kilogram pasir itu hanya dihargai 5000 rupiah. Padahal jika limbah timah ini diolah dan diambil ekstrak thoriumnya, satu kilogram thorium dapat dihargai 100 ribu dollar Amerika.
Thorium ini ke depannya akan dikembangkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Dan thorium ini memiliki banyak keunggulan.
Pertama pastinya murah, karena thorium ini diambil dari limbah timah, dan otomastis akan menghasilkan listrik yang murah pula.
Ke dua limbah dari thorium ini tidak berbahasa alias tidak dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku senjata nuklir. Berbeda dengan uranium yang limbahnya (bahan Plutonium239) dapat dimanfaatkan untuk membuat senjata nuklir.
Ke tiga selain limbah tak berbahaya, limbahnya juga lebih sedikit dan dapat dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.
Ke empat radiasi dari thorium ini tergolong aman.
“Radiasinya adalah radisai alpha. Jadi dia tidak bisa menembus kertas,” ungkap Yudi.
Saat ini India sudah terlebih dahulu memproduksi dan menggunakan energi thorium. Saat ini dalam hal produksi thorium kita bersaing dengan negeri tirai bambu, China yang mendapat sokongan dari Bos Microsoft Bill Gates.
“Jadi sekarang saya sedang bersaing dengan Bill Gates,” ungkap Yudi kepada CNN Student saat ditemui beberapa waktu lalu.
Yudi bersama timnya menargetkan pembangunan akan dimulai pada 2018. Pembangunan pertama direncanakan akan dibuat di Kutai Kartangara, Kalimantan Timur. Ini karena di sana daerah relatif aman tanpa ancaman gempa, selain itu saat ini Kaltim juga membutuhkan pasokan listrik yang besar. Pembangunannya sendiri hanya akan membutuhkan waktu 2 tahun.
Target listrik yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Thorium ini adalah 10 ribu megawatt per tahun. Potensi thorium di Indonesai sendiri saat ini menurutnya ada di angka 120 ribu megawatt yang dapat bertahan hingga 1000 tahun ke depan.
Menurut Yudi, ke depan pendekatan thorium ke masyarakat juga akan lebih mudah, karena sebelumnya masyarakat sudah akrab dengan unsur ini hanya saja tidak tahu namanya. Ia mencontohkan lampu petromax yang sering digunakan masyarakat di pedesaan. Lampu petromax dapat bersinar dengan terang, lampu itu harus dicelup ke dalam cairan thorium. Jadi sebenarnya thorium sudah akrab dengan masyarakat di pedesaan. (rkh/rkh)