Lewat tulisannya di The Daily Telegraph, 29 Agustus 1939, dunia kemudian tahu, Jerman sudah siap memulai Perang Dunia II. Tulisan ini bermula dari perjalanan Hollingworth dari Gleiwitz di Jerman, ke Katowice di Polandia, pada sebuah hari yang berangin, 28 Agustus 1939.
Tak sengaja dia melihat sebuah terpal besar didirikan untuk menutupi pandangan ke sebuah lembah. Terpal pun tersingkap dan Hollingworth menyaksikan banyak sekali tentara, tank, kendaraan bersenjata, dan senjata berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
The Guardian pernah menyebut berita yang dituliskan oleh Hollingworth itu sebagai peliputan media terbesar di abad modern.
Korban manusia dan harta benda sungguh besar. Ini termasuk 11 juta warga sipil yang mati karena Holocaust di kamp-kamp konsentrasi Nazi dan korban tewas karena bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Tercatat, setidaknya 50-85 juta orang tewas dalam perang paling mematikan dalam sejarah manusia ini.
Sebagai wartawan perang, Hollingworth sudah meliput Perang Dunia II di Eropa Timur, Balkan, dan Afrika Utara. Dia juga pernah meliput perang sipil di Yunani dan Algeria, pertikaian Arab dan Yahudi, dan akhirnya Perang Vietnam.
Selain jadi kontributor The Telegraph, Hollingworth juga pernah menjadi kontributor The Guardian, The International Herald Tribune dan The Wall Street Journal.
Karya jurnalistiknya banyak sekali. Liputan-liputannya eksklusif. Tapi tak ada liputan yang paling disukainya selain liputan peperangan. “Saya suka sekali berada dalam sebuah perang,” katanya berterus terang, pada 2011, saat dia genap berusia 100 tahun.
Hollingworth lahir di Knighton di Inggris, pada 10 Oktober 1911. (ded/ded)