Kebanyakan akan membeli makanan di pinggir jalan yang umumnya akan dikemas dengan kemasan putih bernama styrofoam. Sekilas tidak ada yang salah dengan kemasan ringan nan efisien yang satu ini. Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari kemasan ini.
Styrofoam adalah salah satu varian dari zat bernama polystyrene (PS) yang dalam proses pembuatannya melibatkan pencampuran gelembung udara sehingga mengembang dan membuatnya ringan seperti busa. Bahan ini sudah dipasarkan lebih dari tujuh dekade yang lalu oleh perusahaan penemu, Dow Chemicals.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut salah satu badan bentukan FAO yaitu Joint Expert Committee on Food Additives, nilai toleransi monomer stiren dalam tubuh manusia adalah 0,46 atau setara dengan 12,0 mg/orang/hari. Menurut beberapa survei, konsumsi monomer stiren orang dewasa di beberapa negara seperti Inggris, Australia, dan Selandia Baru adalah pada kisaran 1 atau setara dengan 10 µg/orang/hari. Nilai ini masih jauh lebih rendah daripada batas aman sehingga penggunaan styrofoam masih diperbolehkan dalam pengemasan makanan khususnya makanan cepat saji.
Namun, tidak ada hal yang 100 persen tidak menimbulkan masalah di dunia ini. Penggunaan styrofoam yang sudah melewati berbagai pengujian juga dapat menimbulkan masalah. Masalah pertama adalah masalah kesehatan. Pemakaian styrofoam untuk sekali waktu masih dapat ditolerir tubuh namun untuk penggunaan yang terlalu sering akan terjadi penumpukan monomer stiren di liver.
Monomer stiren yang tidak terurai akan menyebabkan liver tidak bekerja secara optimal dan terjadilah gagal liver. Monomer stiren yang merupakan turunan benzena juga dapat mengganggu kelenjar endokrin yang berperan dalam proses reproduksi manusia. Masalah kedua yang ditimbulkan adalah masalah lingkungan. Styrofoam termasuk zat yang sangat sulit diuraikan oleh tanah bahkan sampai ada istilah “ sampah abadi “ untuk kemasan ini. Selain itu pembuatan styrofoam yang menggunakan gas CFC dapat menimbulkan pemanasan global.
Penggunaan styrofoam perlu diawasi tidak hanya oleh pemerintah melalui BPOM namun juga dari berbagai kalangan baik itu masyarakat biasa, para pekerja kantoran, bahkan siswa sekalipun. Penggunaan styrofoam yang tepat guna dan tepat sasaran akan memberi kemudahan dan efisiensi pada pengguna. Sosialisasi mengenai penggunaan dan efek samping styrofoam perlu ditingkatkan untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan. Selain itu peningkatan kesadaran pada masyarakat akan kebutuhan lingkungan yang sehat dan bersahabat adalah dasar untuk tidak membuang styrofoam sembarangan demi menghindari pemanasan global yang semakin terasa hari demi hari. (ded/ded)