“Banyak guru sains dan matematika juga yang sebetulnya tak memahami bidang itu,” kata Hendra Kwee, PhD, pendiri Yayasan SIMETRI yang membawa tim olimpiade fisika Indonesia ke Rusia dan meraih beberapa prestasi. “Karena kelemahan itu, pelajaran sains jadi kurang menarik.”
Dia menyarankan pemerintah meningkatkan kompetensi guru-guru sains, khususnya di daerah. Soalnya, banyak guru yang tak berlatar belakang sains tapi disuruh mengajar sains.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hendra sendiri pernah menjadi pelajar yang mengikuti olimpiade sains di luar negeri. Menurut dia, untuk memahami pelajaran sains macam fisika dan matematika, pelajar harus diajak memahami persoalannya dan anak jangan dipatok mengerjakan soal dengan satu cara saja.
Pengalaman Gerry Windiarto Mohamad Dunda dari SMAN MH Thamrin Jakarta, yang baru saja pulang dari kompetisi Asian Physics Olympiad di Yakutsk, Rusia, memboyong medali emas, bisa jadi inspirasi. Menurut dia, pelajaran macam Fisika itu memang berbeda dengan mata pelajaran lain, macam IPS yang harus banyak menghafal.
“Fisika tidak perlu menghafal, cukup memahami dan kita bisa mengembangkan pikiran kita,” katanya kepada CNN Student.
Yang penting, kata Gerry, jangan menyerah jika ada persoalan yang belum ketemu jawabannya. “Terus berpikir dan berkreasi, cari titik di mana kita bisa menemukan jawabannya. Tanya guru, cari informasi di mana saja, seperti dari Internet.”