Ketiganya tertarik pada salah satu TBM yang berdiri di Kabupaten Bandung Barat yaitu TBM Pengelolaan Lingkungan Cibungur. “Saya melihat keunikan dari TBM ini, dilihat dari sisi pelaku. Mereka adalah aktivis yang peduli terhadap masyarakat dengan berbagai latar belakang. Namun, uniknya tidak ada satu pun dari mereka yang mengerti tentang ilmu perpustakaan,” ujar Rully, ketua peneliti ketika ditemui di Fakultas Ilmu Komunikasi, Unpad.
Menurut Rully, hal ini dapat dijadikan sebuah model. Pendirian TBM yang dikelola oleh orang-orang yang tidak sesuai kepakarannya ternyata dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. “TBM seperti ini adalah sesuatu yang baru dan hanya ada di Indonesia. Jika dibandingkan dengan negara barat, di sana memang ada TBM namun pengelolanya tetap harus yang profesional”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya menjadi sumber informasi, TBM ini juga dapat menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Pasalnya, di TBM ini masyarakat tidak hanya dapat membaca dan meminjam buku. Mereka juga mendapat pelatihan dari beberapa relawan. Seperti cara berwirausaha, cara membuat kerajinan tangan, penyediaan les untuk anak-anak, dan pengajian.
Sambil membolak-balik halaman laporan akhir tahunnya, Andri menegaskan, TBM yang ia teliti ini dapat disebut TBM murni. Menurutnya, TBM ini memang diawali dengan modal dari pendirinya yang bernama Wildan. Namun, seiring berjalannya waktu ada yayasan yang membantu berkembangnya TBM tersebut. Bantuan yang diberikan dapat dalam bentuk buku, komputer, atau beasiswa bagi relawan yang berstatus pelajar. “Bantuan juga datang dari pemerintah yaitu dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Bandung Barat. Ada juga dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi sampai Perpustakaan Nasional. Namun bantuan dari non pemerintah jumlahnya non pemerintah."
Andri juga memaparkan beberapa kendala yang sering terjadi di TBM Cibungur. Di antaranya, relawan yang beralih tingkat pendidikan dari SMP ke SMA cenderung meninggalkan TBM karena telah memiliki kesibukan masing-masing. Mereka cenderung sulit membagi waktu antara kegiatan TBM dengan kegiatan sekolah yang semakin padat. Tidak pastinya pendataan relawan juga menjadi suatu kendala. Tak ada pencatatan resmi bagi relawan ketika ingin bergabung dengan TBM sehingga relawan bisa datang dan pergi sesukanya.
Di sisi lain, TBM semacam ini memiliki nilai lebih yang tak dimiliki perpustakaan institusi atau perpustakaan resmi. TBM menyajikan kebebasan dan keleluasaan untuk para pembaca. Tak ada aturan dan prosedur yang mengikat, bahkan pencatatan peminjaman buku pun tak ada. Mereka lebih menerapkan nilai kejujuran dalam kegiatan TBM. Keadaan tersebut membuat pembaca betah dan santai. Beda halnya dengan perpustakaan resmi yang menerapkan berbagai aturan. Seperti aturan berpakaian, denda jika buku hilang atau rusak dan sebagainya.
“TBM pun tidak hanya mampu menambah pengetahuan pembaca, tapi juga menambah keahlian sehingga berpengaruh terhadap kemajuan hidupnya. Ringkasnya, penelitian kami ini melihat model pengelolaan TBM. Kalau dilihat secara praktik, aktivitas mereka sangat bagus. Namun, secara konsep mereka tidak menyadari bahwa kegiatan mereka adalah model literasi. Cuman mereka enggak ngeh apa itu model literasi dan bagaimana tahapannya. Temuannya, mereka dapat melakukan kegiatan literasi tanpa tahu detailnya karena latar belakang mereka bukan dari ilmu informasi dan ilmu perpustakaan,” kata Andri.