Hasil verifikasi dan analisis data dari 108 lokasi dan 1.064 stasiun di seluruh perairan Indonesia dilaporkan bahwa sekitar 6,39 persen terumbu karang masih dalam kondisi sangat baik, kondisi baik sebesar 23,40 persen, kondisi cukup sebesar 35,06 persen, dan kondisi jelek sebesar 35,15 persen.
Pengukuran kondisi tersebut didasarkan pada persentase tutupan karang hidup yaitu kategori sangat baik dengan tutupan 76-100 persen, baik (tutupan 51-75 persen), cukup (tutupan 26-50 persen) dan jelek (tutupan 0-25 persen).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Data status terumbu karang pada tahun ini diharapkan dapat digunakan semua pihak dalam penyusunan kebijakan, upaya rehabilitasi, pengelolaan dan konservasi terumbu karang nasional, serta dapat memberikan prediksi kondisinya di masa yang akan datang,” kata Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah, dalam keterangannya.
Pemutihan karang ini disebabkan oleh kenaikan suhu air laut akibat fenomena anomali cuaca El-Nino. Para ahli memperkirakan pemutihan karang akan sering terjadi di masa yang akan datang akibat kombinasi dengan perubahan iklim dan pemanasan global.
Pada sisi lain, hasil pengamatan di lapangan pada beberapa lokasi masih ditemukan kegiaan yang merusak terumbu karang, seperti penangkapan ikan menggunakan bom, pencemaran dan peningkatan pengembangan di wilayah pesisir. “Pada kondisi terumbu karang “sangat baik” walaupun cenderung konstan, namun pada 2016 terjadi kenaikan sebesar 1,39 persen, sebagai indikasi peningkatan luasan dan efektifitas kawasan konservasi perairan serta upaya rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang di Indonesia,” kata Dirhamsyah.
Adapun Prof. Dr. Suharsono, peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menjelaskan lebih lanjut, sebaran terumbu karang Indonesia ditemukan mulai dari perairan Sabang sampai Merauke dengan konsentrasi sebaran tertinggi berada di bagian tengah dan timur perairan Indonesia meliputi perairan Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, Maluku dan sekaligus menjadi pusat segitiga keanekaragaman karang dunia (coral triangle).
Hasil pengukuran terkini melalui pemetaan citra satelit, luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km2 (COREMAP-CTI LIPI, 2016) atau sekitar 10 persen dari total terumbu karang dunia (luas 284.300 km2) dan penyumbang terbesar sekitar 34 persen dari luas terumbu karang di wilayah segitiga karang dunia (luas 73.000 km2).
“Menjadi pusat segitiga karang dunia, Indonesia memiliki kekayaan jenis karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia,” ujarnya.
Sebagai contoh jenis karang Acropora di Indonesia mencapai 94 jenis dari total 124 jenis atau dapat dikatakan sekitar 70 persen karang Acropora ditemukan di Indonesia. Sedangkan di perairan Karibia, hanya ditemukan tiga jenis karang Acropora.
Begitu juga jenis karang Famili Fungiidae, ditemukan 41 jenis dari total 43 jenis yang ada di dunia atau sekitar 90 persen tersebar di perairan Indonesia. Jenis-jenis karang endemik yang ditemukan di perairan Indonesia antara lain Acropora suharsonoi, Isopora togeanensis, Acropora desalwi, Indophyllia macasserensis dan Euphyllia baliensis. Jenis karang dengan sebaran terbatas dan merupakan “share stock” dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik juga ditemukan di perairan Indonesia antara lain Acropora kasuarini, Acropora rudis dan Acropora turtuosa