Selain itu, Semarang merupakan 1 dari 3 Kota/Kabupaten di Jawa tengah yang paling banyak terjadi kasus kekerasan seksual pada anak. Maraknya kasus kekerasan seksual anak di Indonesia salah satunya karena kurangnya pengawasan dari orangtua terhadap anak, orangtua cenderung sibuk dengan urusan dan pekerjaannya masing-masing sehingga membuat waktu tatap muka dengan anak menjadi berkurang.
Berdasar hal tersebut lima mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang, yaitu Rezki, Andi Nur Wahidiah, Karin Gandeswari, Sri Wahyuni, dan Risa Sabira yang berasal dari fakultas yang berbeda melakukan kegiatan pencegahan ABER-TESA (Anak Berani Terbuka Anti KSA), di wilayah merah Kota Semarang yaitu wilayah Tambakrejo, Gayamsari, tepatnya di SD 3 Tambakrejo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini untuk meningkatkan minat anak untuk menulis diari. Selain itu kegiatan ini ditambah dengan pendidikan seks mengingat beberapa kasus di Indonesia terjadi karena anak yang tidak paham bahwa hal tersebut seharusnya tidak terjadi kepada mereka. Dengan begitu kegiatan ini diharapkan mampu mencegah terjadinya kasus KSA di Semarang, dan mengembalikan status Semarang sebagai kota yang ramah anak.