Malahan ada stereotype, bahkan di negara maju macam Amerika Serikat, bahwa sains, teknologi, dan matematika, hanya untuk orang-orang khusus. Ada juga stereotype bahwa anak lelaki lebih baik dalam matematika, sedang anak perempuan lebih baik dalam membaca.
Padahal, “Kalau kita paham sains, teknologi, dan matematika, akan sangat banyak membantu hidup kita,” kata Susan Levine, ahli psikologi perkembangan di Universitas Chicago di Illinois, seperti dikutip sciencenewsforstudents.org, baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi seringkali informasi yang didapatkan anak atau remaja dari sekeliling mereka membuat mereka pesimistis. Ketika seorang ibu tak bagus dalam matematika, si putri akan langsung mengetahuinya dan berasumsi bahwa dia pun takkan bagus dalam matematika.
Begitu pun dalam menyikapi kesuksesan dan kegagalan. Bagaimana orangtua berbicara soal kesuksesan dan kegagalan akan mempengaruhi sikap anak. Memuji upaya atau perjuangan anak akan lebih baik ketimbang selalu mengatakan bahwa si anak pintar. Begitu pun dalam menghadapi kegagalan.
“Jangan membiarkan anak memandang kegagalan sebagai sesuatu yang tak bisa diterima, melainkan sebuah peluang untuk bertumbuh dan belajar,” kata Elizabeth Gunderson dari Universitas Temple di Philadelphia.
Anak-anak, kata Gunderson lagi, akan merespons positif pada pesan-pesan seperti: “Tantangan itu menyenangkan, bukan?” atau “Otak kita ini seperti otot, harus dilatih.”