Ketua tim peneliti Nurlailiatul Machmudah mengatakan, penggunaan plastik, terutama kantong plastik, sudah semakin menggila. Sebuah lembaga lingkungan hidup di Amerika Serikat, Environment Protection Body, mencatat, setiap tahun sekitar 500 miliar sampai 1 triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia.
"Inilah ancaman terhadap lingkungan hidup, sebab plastik merupakan material yang sulit dihancurkan oleh organisme. Untuk bisa lebur dan terurai dalam tanah, sampah plastik butuh waktu antara 200 sampai 1.000 tahun," tuturnya, seperti dikutip kantor berita Antara, senin (24/7) kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menuturkan, saat ini telah ditemukan beberapa macam plastik "biodegradable" antara lain, polihidroksi alkanoat (PHA), poli e-kaprolakton (PCL), poli butilen suksinat (PBS) dan poli asam laktat (PLA). Namun, kebanyakan bahan baku plastik biodegradable itu masih menggunakan sumber daya alam yang tidak diperbaharui (non-renewable resources) dan tidak hemat energi.
"Bioplastik hasil sintesis ini dinamai bioplastik 'Mbah Kilat' (limbah kulit udang dan biji alpukat). Jadi, bioplastik 'Mbah Kilat' ini dibuat dari bahan dasar kitosan kulit udang dan pati (tepung) limbah biji alpukat. Pada biji alpukat itu terdapat banyak kandungan pati yang bisa dijadikan komponen plastik, sehingga plastik mudah didegradasi oleh mikroorganisme," paparnya.
Sedangkan pada limbah kulit udang mengandung kitin yang bisa ditransformasi menjadi kitosan sebagai penguat karakter polimer plastik. Untuk menambah karakteristik plastik, maka ditambahkan zat pemlastis atau plastisizer sorbitol.
Hasil penelitian ini kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE). Setelah melalui seleksi Dikti, proposal "Bioplastik Mbah Kilat (Limbah Kulit Udang Dan Biji Alpukat)" ini lolos untuk mendapatkan dana penelitian dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.
"Dengan hadirnya bioplastik 'Mbah Kilat' ini kami berharap dapat menjadi alternatif plastik pengganti plastik komersial yang aman digunakan, mudah terurai, dan dapat digunakan sebagai solusi mengoptimalisasi pemanfaatan limbah," ujar Nurlaili.