Seperti dijelaskan dalam keterangan yang diterima CNN Student, Jumat (28/7), kedua ilmuwan ini menemukan suatu efek baru di fisika yang diberi nama unik yaitu “Efek punuk unta". Ini adalah efek pada medan magnet yang terjadi di antara dua baris dipol magnet yang sejajar (parallel dipole line) di mana medan magnetnya menjadi lebih kuat pada ujung-ujungnya, sehingga plot grafiknya mirip "punuk unta”.
Efek punuk unta ini mempunyai banyak aplikasi, di antaranya sebagai jebakan magnetik jenis baru yang bisa dipakai untuk mengukur sifat magnetik bahan, viskositas (Pengukuran ketahanan fluida yang diubah baik dengan tekanan maupun tegangan) udara, dan alat instrumentasi teknologi semikonduktor. Efek ini juga sedang dikembangkan untuk menjadi alat pengukur intensitas gempa bumi dan memonitor gunung api.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr. Oki Gunawan dan Dr. Yudistira Virgus menemukan efek ini melalui risetnya di IBM Thomas J. Watson Research Center, Amerika Serikat. Penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Applied Physics Letter dan Journal of Applied Physics, serta beberapa paten di AS.
Dr. Oki adalah peneliti di IBM Thomas J. Watson Research Center, New York, AS. Dia menyelesaikan studi sarjananya di Nanyang Technological University, Singapura, dan master dan doktor dari Princeton University, AS. Oki adalah mantan anggota Tim Olimpiade Fisika Indonesia dan peraih medali IPhO Indonesia pertama (perunggu) di IPhO ke-24 di Williamsburg, AS, pada 1993. Saat itu dia adalah siswa SMAN 78, Jakarta.
Adapun Dr. Yudistira menyelesaikan pendidikan sarjana dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pendidikan master dan doktor dari College of William and Mary, AS. Yudistira adalah anggota TOFI tahun 2003 dan 2004 saat masih menjadi siswa di SMA Xaverius 1 Palembang. Yudistira meraih medali emas di Asian Physics Olympiad (APhO) tahun 2003, medali perunggu di IPhO 2003 dan medali emas di IPhO 2004.