Bukti yang digali dari temuan sepasang fosil gigi di Gua Lida Ajer di Payakumbuh, Sumatera Barat, menunjukkan hal berbeda. Dari penelitian, menurut Science News, gigi ini disebut dan dimasukkan ke genus manusia, Homo, dan merupakan tipikal dari Homo sapiens.
Sepasang gigi itu adalah temuan Eugene Dubois, seorang arkeolog Belanda yang terkemuka, pada seabad lebih yang lalu. Fosil gigi, oleh Dubois, digolongkan Manusia Jawa yang merupakan kelompok manusia purba. Tapi ilmuwan Kira Westaway dari Universitas Macquarie di Sydney menumbangkan anggapan tersebut.
Westaway dan timnya mengatakan, hal tersulit adalah memastikan keaslian situs gua, sebab mereka hanya memegang data sketsa gua dan peta kasar dari salinan buku catatan Dubois.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesimpulan tim itu telah menggeser anggapan bahwa Homo sapiens baru menghuni Asia Tenggara pada 60.000 tahun lalu dan bukti fosil tertua berasal dari 45.000 tahun lalu. Temuan fosil sepasang gigi di Gua Lida Ajer telah mendorong mundur timeline itu.
Letusannya diyakini menyebabkan terjadinya musim dingin vulkanis global selama 6-10 tahun dan kemungkinan terjadinya episode pendinginan Bumi selama 1.000 tahun.
Gigi di Lida Ajer itu adalah bukti pertama adanya manusia modern di Indonesia sebelum terjadinya letusan. Ini juga bukti pertama manusia mengokupasi hutan hujan. Sebelumnya, ada anggapan bahwa manusia bermigrasi dari Afrika pada 100.000 tahun lalu atau menyusuri garis pantai untuk mencapai Asia Tenggara dan makan makanan laut sepanjang jalan. Mereka lebih memilih bermigrasi di pesisir untuk menghindari kesulitan.
Tapi beberapa bukti dari Sumatera ini mengindikasikan bahwa beberapa manusia terawal yang berangkat dari Afrika tadi ternyata mampu bertahan hidup di hutan hujan, yang membutuhkan perencanaan dan alat mumpuni dalam mengumpulkan makanan dan berburu hewan tinggi lemak.
Kesimpulan itu diraih oleh geoscientist Kira Westaway dari Universitas Macquarie di Sydney dan koleganya. Mereka melakukan penanggalan sedimen dan menganalisis formasi di area itu. Mereka kemudian memperkirakan usia gigi manusia itu dan menghubungkannya dengan fosil berbagai hewan dari hutan hujan yang digali pada akhir 1800-an.