Mereka menyimpulkan, temperatur telah mempengaruhi instruksi pembuatan protein di RNA, yang menyebabkan perubahan jenis kelamin.
Temuan ini kemungkinan bisa diterapkan pada spesies reptil lain, yang jenis kelaminnya dipengaruhi oleh temperatur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi pada kadal bearded dragon, cukup unik. Sebab, spesies ini dipengaruhi oleh kombinasi kromosom dan temperatur, kata ahli ekologi Clare Holleley dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation di Canberra, Australia.
Uniknya, ketika temperatur naik di atas 32 derajat Celcius, kadal jantan yang punya kromosom Z tadi akan berubah dan berkembang jadi betina.
“Kadal ini punya dua kromosom, tapi mereka juga dipengaruhi temperatur,” kata Holleley.
Untuk mengetahui mengapa bisa begitu, Holleley dan timnya mengumpulkan RNA dari otak, organ reproduksi, dan jaringan lain pada kadal betina dan jantan yang normal, serta kadal yang mengalami perubahan kelamin. Sampel kadal dari jenis Pogona vitticeps dari Australia tengah. Data RNA itu kemudian dibandingkan.
Rupanya pada betina yang kelaminnya berubah, mengalami aktivitas beberapa gen. Di antaranya JARID2 dan JMJD3 dari keluarga gen yang sering disebut Jumonji. Gen ini diketahui mempengaruhi perbedaan jenis kelamin pada hewan. Contohnya pada mamalia, keluarga Jumonji ini berinteraksi dengan SRY, gen di kromosom Y yang mengembangkan testis pada jantan. Lainnya terlibat pada penonaktifan kromosom X, yang memastikan betina tak memiliki protein dosis ganda yang muncul akibat gen yang ada pada sepasang kromosom X-nya.
Mereka juga menemukan perubahan pada RNA. RNA itu membawa informasi dari DNA yang diterjemahkan pada protein dan normalnya mengalami editing sebelum ditranslasikan. Tapi pada betina yang berubah kelamin, salah satu bagian yang seharusnya dibuang, malah bertahan.
Nah RNA yang bertahan itu rupanya mengandung kode kimia yang bertindak sebagai tanda untuk berhenti. Secara prematur menahan translasi RNA dari dua gen menjadi protein.
Holleley dan timnya mendapati efek yang sama pada aligator dan penyu. Penyuntingan RNA ini diduga dimulai pada perkembangan janin awal dan kemungkinan berlanjut lebih jauh pada reptil yang memakai temperatur (dingin atau panas) sebagai salah satu penentu jenis kelamin.