Alat ini merupakan bioelektrik yang terdiri dari rangkaian sensor, perangkat keras, dan perangkat lunak mikro prosesor. Alat ini dapat melakukan pengukuran kontraksi rahim dengan cara menangkap sinyal dari aktivitas kelestarian rahim pada kehamilan dan persalinan.
Alat ini dilengkapi dengan tiga buah elektroda permukaan bioelektrik bahan AgCI yang dapat disterilkan dan tidak beracun, sehingga tidak menimbulkan alergi. Elektroda ini bekerja dengan cara meneruskan aktivitas ion saat terjadi depolarisasi pada sel otot rahim melalui permukaan abdomen ibu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Suryono, angka kematian ibu saat persalinan 359 berbanding 100.000, karena ibu yang sudah tidak kuat untuk melahirkan tetapi tetap dipaksakan sangat berisiko tinggi. Dengan adanya alat ini bisa meminimalisir angka kematian ibu saat melakukan persalinan.
Menurut Melyana, dari referensi yang terkumpul alat ini disempurnakan dalam kurun waktu kurang lebih 1,5 tahun. “Dan alat ini sebetulnya tidak memberikan sinyal apapun pada tubuh. Alat ini bekerja dengan cara menyadap aliran listrik yang dihasilkan secara alami saat ingin melahirkan pada rahim oleh tubuh,” ungkapnya.
Alat ini, lanjut Melyana, tidak bisa digunakan secara pribadi, dan hanya bisa digunakan oleh bidan-bidan yang sudah mengikuti pelatihan. Ada prosedur tetap untuk bidan dalam memeriksa kontraksi.
“Dengan alat ini kita bisa lihat dari frekuensi yang dikeluarkan, apakah kontraksi ini bisa membuat pembukaan atau tidak. Karena untuk mendapatkan bukaan yang bagus harus mendapatkan 90 volt,” ujar Tecky Afifah yang masuk dalam tim inisiator alat tersebut. (ded/ded)