Michelli menjelaskan selama ini styrofoam dianggap sebagai sampah abadi karena tidak bisa terurai di alam. Nah, kulit jeruk mempunyai senyawa yang dapat mengurai styrofoam itu.
"Kulit jeruk mempunyai senyawa yang bernama limonel yang membantu styrofoam terurai di alam," kata mahasiswi kelahiran 14 Februari 1996 ini, seperti dikutip Antara di Surabaya, Selasa (22/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan inovasi ini saya ingin masyarakat luas dapat membuatnya maka saya menggunakan bahan-bahan pendukung yang ramah lingkungan, mudah didapatkan dan bisa dilakukan siapa saja seperti tepung kanji, garam, gliserin, air dan lain-lain," ujar Michelli.
"Kesulitan karena penelitian ini sudah banyak di luar negeri tapi di Indonesia belum ada jadi susah mencari literaturnya, komposisi, dan alat-alatnya. Harus mencoba banyak cara sampai akhirnya mendapat cara. Dibutuhkan usaha lebih banyak lagi, terutama untuk literatur," tuturnya.
Dia berharap dengan inovasinya ini, pembuatan interior ke depan bisa lebih ramah lingkungan, dan bisa memanfaatkan sampah-sampah serta tidak membahayakan alam.