"Akhir tahun ini kami akan menerjunkan 5.930 pendamping petani dari unsur mahasiswa, dosen, alumni pergurian tinggi pertanian, serta pemuda tani," kata Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Gunawan Yulianto di Yogyakarta, seperti dilansir Antara, kemarin.
Gunawan mengatakan ribuan pendamping pertanian dari 40 perguruan tinggi mitra Kementan dan tujuh Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) itu akan mulai diterjunkan ke lapangan pada September hingga November 2017. "Kami yakin meski waktu pelaksanaannya sangat singkat, namun akan efektif jika dilakukan secara optimal," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, pelibatan unsur mahasiswa, dosen, alumni perguruan tinggi pertanian dan pemuda tani itu untuk memastikan terealisasinya inovasi di bidang pertanian. Dengan upaya itu, kata dia, juga diyakini mampu mendukung terwujudnya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045.
Menurut dia, beragam kegiatan yang dilakukan dalam pendampingan itu di antaranya menggerakkan kelompok tani untuk menerapkan teknologi tepat guna, hingga membantu membangun jejaring agribisnis dan kemitraan petani dengan pelaku usaha.
Gunawan optimistis melalui pendampingan itu akan membantu memperkuat sistem agribisnis dari hulu ke hilir, bukan hanya pada komoditas padi, jagung dan kedelai (pajale), namun juga seluruh tanaman hortikultura seperti cabai, bawang merah serta bawang putih.
"Kalau dulu kan hanya fokus pada tanaman pajale saja. Sekarang kami akan prioritaskan semua termasuk seluruh tanaman hortikultura sehingga Indonesia tidak perlu impor lagi," kata dia.