Menariknya, kamu bisa mengunjungi museum ini secara gratis. Museum ini menempati salah satu bagian Gedung Dwi Warna yang sarat akan sejarah perjuangan bangsa. Museum ini memiliki beberapa keunikan baik dari sisi koleksi, lokasi, sisi kepeloporan pada transparansi dan akuntansi lembaga publik khususnya lingkup Kementerian Keuangan.
"Sisi kepeloporan karena museum ini masih menjadi satu-satunya museum di lingkungan Kementerian Keuangan yang dibuka untuk umum. Hal ini langkah terbaru Ditjen perbendaharaan untuk menguatkan jati diri sebagai katalisator reformasi birokrasi," kata Kakanwil Perbendaharaaan Jabar Yuniar Yanuar Rashid.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun peralatan lintas zaman itu yakni masa Thesaurie (1866-1968), masa Ditjen Anggaran (1969-2003), dan masa Ditjen Perbendaharaan (2004-sekarang).
Kedua, ruang auditorium yang digunakan sebagai tempat menonton pemutaran video mengenai sejarah pembendaharaan. Terakhir, galeri koleksi yang menyajikan dokumen, peralatan, bahan pustaka seperti buku staatsblad dan benda-benda lainnya.
"Ruang pertama juga mendeskripsikan peristiwa Gunting Syafruddin, The Supreme Court and The Daendels Palace at The Waterloo Squere," katanya.
Sekretaris Ditjen Perbendaharaan, Haryana mengatakan, dari mulai persiapan hingga berdirinya museum perbendaharaan ini memerlukan waktu tiga tahun. Ia mengaku sengaja memilih salah satu bangunan milik Kanwil Jabar untuk digunakan sebagai lokasi museum. Pasalnya, ruang yang digunakan sebagai museum memiliki kaitan erat dengan lahirnya Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.
"Semoga bisa menjadi museum hidup. Artinya, setiap perkembangan bisa tersimpan dan terwakili di museum ini. Menjadi museum edukatif. Dan bagi yang tertarik di bidang keuangan, atau mahasiswa bisa menjadi salah satu semacam mata kuliah wajib perbendaharaan negara," kata dia.