“Anak-anak yang paling banyak mengalami kegagalan adalah yang paling membutuhkan pendidikan yang baik untuk sukses dalam kehidupan," demikian pernyataan Bank Dunia, dalam Laporan Pembangunan Dunia terbarunya, yang fokus pada pendidikan global.
Laporan tersebut menemukan bahwa hasil belajar selalu jauh lebih buruk bagi kelompok yang kurang beruntung, seperti anak-anak miskin, anak perempuan, anak-anak cacat, etnis minoritas. Kelompok-kelompok ini tidak terdaftar di sekolah atau kemungkinan besar tidak sekolah. Bank menamai kekurangan yang parah ini sebagai “krisis belajar”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, tidak semua negara-negara berkembang mengalami kesenjangan belajar yang ekstrem, ketika banyak yang jauh tertinggal dari tingkat yang mereka cita-citakan, kata laporan tersebut.
“Krisis belajar ini adalah krisis moral dan ekonomi," kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam keterangannya, Selasa (26/7).
Bank Dunia menyarankan negara-negara untuk melakukan penilaian pembelajaran yang serius guna melacak dan memperbaiki pendidikan. Bank Dunia juga meminta negara-negara untuk membuat sekolah bagi semua peserta didik serta mengatasi hambatan teknis dan politis dalam proses belajar-mengajar.