Begitu kata peneliti dari Persatuan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi (Petri) Dr Leonard Nainggolan, di Surabaya, Kamis (12/10), seperti dilansir Antara.
“Penyakit DBD memang paling banyak menyerang anak-anak saat berada di sekolah karena kaki mereka tersembunyi di bawah meja menjadi sasaran empuk nyamuk Aedes aegypti,” kata Leonard saat media briefing "Nyamuk Bandel, Perkembangannya & Wabah yang Ditimbulkan" di Surabaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari data Kementerian Kesehatan, kata dia, penyakit DBD hingga saat ini terus berkontribusi besar dalam meningkatkan jumlah kasus kematian di Indonesia.
Gejala DBD, lanjut dia, bisa diketahui melalui tanda-tanda seperti demam mendadak, sakit kepala, nyeri belakang bola mata, mual dan juga manifestasi pendarahan seperti mimisan.
Untuk itu, perlu adanya upaya-upaya pengendalian DBD. Salah satunya yakni mengupayakan pembudayaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M plus secara berkelanjutan sepanjang tahun. Selain itu mewujudkan gerakan satu rumah satu jumantik.
“Pelatihan tata laksana kasus untuk dokter dan tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit juga perlu dilakukan,” ujarnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Surabaya, dr. Mira Novia mengutarakan paling banyak kasus penularan di Kota Surabaya ada di Kecamatan Tambaksari. Hal ini karena penduduknya paling padat dan terbanyak.
"Tapi, kita sudah banyak sekali melakukan sesuatu dan itu didukung Bu Wali Kota Tri Rismaharini. Para camat dan lurah juga setiap jumat pagi selalu kerja bakti," katanya.
Menurut dia, tren kasus DBD di Kota Surabaya menunjukkan penurunan hingga September 2017. Hal ini bisa dilihat pada tahun 2016 tercatat 938. Dan tahun ini tercatat ada 302 kasus. "Artinya, dari angka itu menurun drastis kasus DBD di Surabaya," tuturnya.