Gerabah dalam bahasa setempat disebut sempe. Pengetahuan membuat sempe merupakan warisan nenek moyang orang Kayu Batu, yaitu Suku Pui. Pada zaman prasejarah hasil-hasil sempe dari Kayu Batu diperdagangkan ke beberapa daerah di pesisir utara Papua hingga Sarmi dan perbatasan Papua Nugini.
Sempe dibarter dengan kapak batu dan manik-manik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembuatan gerabah di Kampung Kayu Batu dilakukan oleh perempuan, baik proses pencarian bahan baku hingga proses pembentukan dan pembakaran. Tanah liat sebagai bahan baku diperoleh dari kebun yang tidak jauh dari Tanjung Suaja. Pasir halus didapatkan dari pesisir pantai Tanjung Suaja.
Dalam proses pembuatannya, tanah liat diberi pasir laut halus sebagai campuran dan ditambah sedikit air guna membantu proses pembuatan adonan tanah liat.
Gerabah bagian dasar dibuat dengan tangan. Untuk bentuk selanjutnya, yaitu dinding dan badan, dalam proses pembentukan dibantu oleh tatap pelandas. Pembentukan mulut dan tepian menggunakan tangan.
Dalam penyelesaian akhir, permukaan luar gerabah dibuat dengan pemberian hiasan berupa motif kadal, ikan, atau kerang laut sesuai dengan suku yang ada atau pembuatnya.
Guna mengurangi porositas gerabah, maka setelah selesai gerabah dibakar, permukaan luar gerabah digosok dengan buah bakau. Bentuk gerabah yang dihasilkan berupa tempayan yang berfungsi untuk menyimpan air.
Tradisi pembuatan gerabah Kayu Batu perlu dilestarikan, agar tidak tergerus oleh wadah plastik. Hal itu perlu didukung oleh masyarakat Kayu Batu, dinas terkait, dan konsumen gerabah. Perlu dilakukan penelitian dan pendokumentasian yang mendetail dan lengkap tentang tradisi pembuatan gerabah di Kayu Batu.