Pohon-pohon yang begitu besarnya, dan seringnya hujan membuat pembukaan lahan dengan pembakaran sulit dilakukan. Sehingga pada masa prasejarah, penduduk Papua di dataran rendah mengembangkan sistem pertanian yang efisien.
Tidak perlu keluar banyak tenaga hanya untuk menebang pohon besar dengan alat batu. Mereka lebih mengandalkan penanaman umbi-umbian yang tumbuh merambat dan tidak membutuhkan banyak sinar matahari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu dataran tingi yang terletak 1.550 meter dari permukaan laut hanya dapat ditumbuhi oleh jenis-jenis tanaman tertentu saja. Tanaman ini adalah keladi, buah merah (pandanus), pisang Australimusa (jenis pisang asli Papua dengan tangkai buah tegak lurus), umbi rambat, dan tebu.
Situs Kuk merupakan pusat domestikasi tumbuhan independen. Di sini, sebagian areal rawanya dikeringkan dan dijadikan lahan untuk menanam keladi. Keladi yang ditanam di sini diperkirakan merupakan jenis keladi liar yang mengandung sedikit zat tepung, tetapi yang pucuk dan daunnya bisa dimakan.
Berdasarkan analisis polen yang dilakukan oleh Haberle (1991) terhadap sisa serbuk sari tanaman buah merah, yang ditemukan di Kalela, Lembah Baliem, diperkirakan pertanian awal di Papua Indonesia berlangsung 7000 tahun yang lalu.
Hal ini menunjukkan bahwa Papua mengenal pertanian intensif dengan tanaman utama umbi-umbian yaitu keladi sejak 7000 tahun yang lalu, sedangkan untuk wilayah Indonesia bagian barat bukti pertanian intensif diketahui sejak penutur Austronesia datang sekitar 5000 tahun yang lalu dengan mengenalkan tanaman biji-bijian yaitu padi.