Seperti yang disampaikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Beliau mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati dalam menghadapi berita atau informasi yang belum jelas kebenarannya, alias hoax.
Sebagai mahasiswa, juga harus berhati-hati dalam memperoleh informasi, agar tidak terjebak dalam kebohongan belaka. Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang berpendidikan, yang mampu membedakan mana yang baik dilihat dari segi ilmu pengetahuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahasiswa banyak menggunakan media sosial untuk mendapatkan informasi, misalnya dari Twitter, Facebook, Instagram, Line dan lain sebagainya. Jarang mahasiswa yang membaca langsung dari sumber aslinya.
Mari memilah dan memilih informasi yang beredar, termasuk melalui media sosial yang memang sedang sangat marak. Jangan asal percaya terhadap berita yang belum jelas kebenarannya.
Ada beberapa cara agar peka terhadap berita hoax dan tidak ikut menyebarkan berita hoax, yaitu:
1. hati-hati dengan judul yang sensasional yang provokatif atau yang bersifat bombastis,
2. mencermati alamat situs yang memberikan informasi
3. memverifikasi fakta dan keaslian seperti dokumen atau foto, karena konten berupa teks dan gambar dapat dimanipulasi dengan mudah di era teknologi digital saat ini
4. membaca isi berita atau informasi yang kita peroleh dengan cermat, agar ketika membagikan informasi kepada orang lain tidak salah
5. jangan langsung percaya dengan informasi yang dibagikan di media sosial seperti di Facebook, Twitter, Whatsapp, Line dan lain sebagainya. Aplikasi-aplikasi tersebut tentunya memudahkan seseorang untuk mengirimkan informasi ke orang lain dengan cepat, melalui personal message, ataupun group message. Apalagi dari grup sebelah, itu sangat salah sekali. Bisa-bisa kita ikut ramai-ramai terkelabui oleh berita hoax.
Apalagi mahasiswa aktif menggunakan media sosial seperti line dan whatsapp untuk kebutuhan berkomunikasi dengan teman-teman kampus dan dengan dosen.
Misalnya saja, pernah terjadi penyebaran berita hoax di sekitar Universitas Padjadjaran mengenai pemerkosaan mahasiswi oleh tukang ojek pangkalan. Ternyata setelah diverifikasi, berita tersebut bohong atau hoax. Informasi aslinya bukan pemerkosaan. Informasi tersebut dilebih-lebihkan kemudian menyebar secara pesat, melalui jaringan internet.
Perlu disadari, bahwa mahasiswa merupakan kaum muda yang memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan masyarakat. Karena mahasiswa merupakan kaum intelektual yang terdidik. Dari sekian banyak kaum intelektual tersebut akan muncul beberapa bibit kaum intelektual yang aktif di berbagai kegiatan yang berlandaskan tri dharma perguruan tinggi, yang mampu memberikan sumbangsih terbaik kepada bangsanya.
Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif diharapkan selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realitas sosial yang terjadi di masyarakat.
Mahasiswa harus menjadi Agen of Change dan Social Control yang baik dan berkualitas, salah satunya dengan cara meluruskan kebiasaan yang salah pada masyarakat, yakni dalam menanggapi penyebaran berita hoax. Untuk itu dalam menangkal berita hoax yang beredar, mahasiswa harus lebih peka dengan stuasi yang ada. Untuk memerangi berita hoax salah satunya dengan membudayakan literasi media kepada masyarakat. (ded/ded)