Cara Penghitungan Tanggal Kalender Hijriah Muhammadiyah
Banyak masyarakat mempertanyakan bagaimana cara penghitungan tanggal Muhammadiyah, terutama ketika muncul perbedaan penetapan awal Ramadhan, Idulfitri, atau Iduladha. Situasi ini kerap terjadi hampir setiap tahun dan menjadi perhatian luas umat Islam.
Perbedaan tersebut tidak muncul tanpa dasar. Muhammadiyah memiliki metode khusus yang digunakan secara konsisten dalam menentukan tanggal-tanggal penting di kalender Hijriah. Pendekatannya menggabungkan kajian keagamaan dan ilmu astronomi.
Lihat Juga : |
Dasar pemikiran penentuan tanggal dalam Muhammadiyah
Melansir laman NU Online, penentuan awal bulan Hijriah dalam Islam berkaitan erat dengan peredaran bulan mengelilingi bumi.
Seiring perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan, umat Islam mengenal dua pendekatan utama dalam menentukan pergantian bulan. Pertama, pengamatan langsung terhadap hilal. Kedua, perhitungan astronomis.
Muhammadiyah memilih pendekatan perhitungan astronomis atau hisab sebagai dasar utama penetapan tanggal.
Pilihan ini dilandasi oleh keyakinan pergerakan bulan dan matahari dapat diketahui secara pasti melalui ilmu pengetahuan, sehingga awal bulan Hijriah dapat ditentukan dengan tingkat ketepatan yang tinggi.
Sebaliknya, metode pengamatan langsung sangat bergantung pada kondisi alam, seperti cuaca dan visibilitas langit. Tak terkecuali keterbatasan kemampuan penglihatan manusia.
Faktor-faktor tersebut memungkinkan terjadinya perbedaan hasil pengamatan antarwilayah, meskipun dilakukan pada waktu yang sama.
Oleh sebab itu, Muhammadiyah menilai kepastian waktu ibadah akan lebih terjaga apabila penetapan tanggal didasarkan pada perhitungan yang objektif, konsisten, dan terukur. Inilah yang menjadi alasan utama digunakannya hisab sebagai pedoman resmi dalam penentuan kalender organisasi.
Pendekatan hisab juga memungkinkan penyusunan kalender Hijriah dilakukan secara terencana untuk jangka waktu panjang, tanpa harus menunggu hasil pengamatan di lapangan setiap kali memasuki bulan baru.
Cara penghitungan tanggal Muhammadiyah dengan hisab hakiki wujudul hilal
Dalam praktiknya, cara penghitungan tanggal Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Metode ini menitikberatkan pada perhitungan posisi aktual bulan dan matahari berdasarkan kaidah astronomi.
Penetapan awal bulan Hijriah dilakukan dengan memperhatikan terpenuhinya tiga syarat utama, yakni:
- Pertama, telah terjadi peristiwa pertemuan antara bulan dan matahari atau ijtimak.
- Kedua, peristiwa tersebut terjadi sebelum matahari terbenam.
- Ketiga, pada saat matahari terbenam, posisi bulan masih berada di atas ufuk sehingga secara astronomis bulan baru telah dinyatakan ada.
Ketiga syarat tersebut dipahami sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu syarat tidak terpenuhi, awal bulan baru belum ditetapkan dan bulan berjalan dilanjutkan.
Ketentuan tersebut menjadi dasar utama dalam penetapan awal bulan Hijriah versi Muhammadiyah. Seluruh proses dilakukan melalui perhitungan astronomi yang presisi, sehingga keputusan dapat ditetapkan tanpa bergantung pada pengamatan visual di lapangan.
Lihat Juga : |
Dalam pendekatan ini, keberadaan hilal dipahami secara astronomis. Selama posisi bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam dan memenuhi kriteria yang ditetapkan, bulan baru dinyatakan telah dimulai.
Metode hisab hakiki wujudul hilal disusun dengan mengaitkan dalil Al-Qur'an, hadis, serta kaidah fikih, lalu diperkuat dengan ilmu astronomi modern. Dengan dasar tersebut, Muhammadiyah dapat menyusun kalender Hijriah secara konsisten dan berkelanjutan.
Perbedaan penetapan tanggal dengan metode lain merupakan konsekuensi dari perbedaan pendekatan. Dengan memahami cara penghitungan tanggal Muhammadiyah, kamu bisa menyikapi perbedaan ini secara lebih bijak dan proporsional.
(han/rti)