Jakarta, CNN Indonesia --
Sejarah bom atom Hiroshima dan Nagasaki 6 Agustus 1945 menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah dunia.
Pada penghujung Perang Dunia II, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di dua kota besar Jepang, yakni Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, tetapi juga mengubah arah politik internasional, perkembangan teknologi nuklir, hingga mempercepat berakhirnya Perang Dunia II.
Bom atom yang dijatuhkan merupakan hasil pengembangan Proyek Manhattan, sebuah program rahasia Amerika Serikat yang melibatkan ribuan ilmuwan untuk menciptakan senjata nuklir pertama di dunia.
Setelah Jerman menyerah pada Mei 1945, Jepang masih melanjutkan perlawanan di kawasan Pasifik. Pemerintah Amerika Serikat kemudian memutuskan menggunakan bom atom dengan tujuan mempercepat berakhirnya perang dan menghindari invasi darat yang diperkirakan akan memakan korban lebih besar.
Berikut kronologi serta fakta penting mengenai peristiwa tersebut.
1. Proyek Manhattan menjadi awal lahirnya bom atom
Sebelum serangan dilakukan, Amerika Serikat menjalankan Proyek Manhattan sejak 1942. Program ini melibatkan para ilmuwan dari berbagai negara untuk mengembangkan senjata berbasis reaksi fisi nuklir.
Penelitian dilakukan secara rahasia di sejumlah lokasi, termasuk Los Alamos, New Mexico. Hasil akhirnya adalah dua jenis bom atom dengan material berbeda, yaitu bom uranium yang diberi nama Little Boy dan bom plutonium bernama Fat Man.
Keberhasilan uji coba bom nuklir pertama pada Juli 1945 menjadi dasar bagi pemerintah Amerika Serikat untuk mempertimbangkan penggunaannya dalam perang melawan Jepang.
2. Hiroshima dibom pada 6 Agustus 1945
Ilustrasi. Sejarah bom atom Hiroshima dan Nagasaki 6 Agustus 1945 menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah dunia. (iStockphoto/Neosiam) |
Pada pagi hari tanggal 6 Agustus 1945 sekitar pukul 08.15 waktu setempat, pesawat pengebom B-29 Enola Gay menjatuhkan bom atom Little Boy di atas Kota Hiroshima.
Dalam hitungan detik, ledakan dahsyat menghancurkan sebagian besar wilayah kota. Gelombang panas dan tekanan udara merobohkan bangunan, memicu kebakaran besar, serta menyebabkan puluhan ribu orang meninggal seketika.
Hiroshima dipilih karena merupakan salah satu pusat militer dan logistik Jepang yang saat itu masih relatif belum mengalami kerusakan besar akibat serangan udara sebelumnya.
Namun, korban terbesar justru berasal dari kalangan warga sipil yang sedang menjalani aktivitas pagi hari ketika ledakan terjadi.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
3. Nagasaki menjadi sasaran kedua pada 9 Agustus 1945
Tiga hari setelah Hiroshima, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan nuklir. Pada 9 Agustus 1945, pesawat B-29 menjatuhkan bom plutonium Fat Man di Kota Nagasaki.
Awalnya, sasaran utama adalah Kota Kokura, tetapi kondisi cuaca yang buruk membuat pesawat beralih menuju Nagasaki.
Topografi Nagasaki yang dikelilingi perbukitan memang sedikit mengurangi jangkauan ledakan dibandingkan Hiroshima. Meski demikian, kehancuran yang ditimbulkan tetap sangat besar, menghancurkan kawasan industri dan permukiman serta menyebabkan ribuan korban jiwa dalam waktu singkat.
4. Korban jiwa mencapai ratusan ribu orang
Serangan di Hiroshima dan Nagasaki menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern.
Berbagai penelitian memperkirakan, jumlah korban meninggal akibat kedua bom atom berkisar antara 150 ribu hingga 246 ribu orang. Sebagian besar merupakan warga sipil.
Korban tidak hanya meninggal saat ledakan berlangsung. Banyak orang kehilangan nyawa dalam beberapa minggu hingga bulan berikutnya akibat luka bakar berat, infeksi, dan paparan radiasi.
Infrastruktur kota, rumah sakit, sekolah, serta fasilitas umum juga mengalami kerusakan hampir total sehingga menyulitkan proses penyelamatan korban.
5. Dampak radiasi berlangsung selama puluhan tahun
Selain kehancuran fisik, bom atom meninggalkan dampak kesehatan jangka panjang.
Para penyintas yang dikenal dengan sebutan 'hibakusha' mengalami berbagai penyakit akibat radiasi, seperti leukemia, kanker tiroid, kanker paru, hingga gangguan pada sistem kekebalan tubuh.
Sebagian korban juga mengalami luka bakar permanen, kelainan genetik, serta gangguan psikologis yang berlangsung bertahun-tahun.
Penelitian mengenai dampak radiasi terhadap manusia terus dilakukan hingga sekarang karena peristiwa tersebut menjadi salah satu sumber data terbesar mengenai efek paparan radiasi nuklir terhadap kesehatan manusia.
6. Jepang menyerah dan Perang Dunia II berakhir
Ilustrasi. Sejarah bom atom Hiroshima dan Nagasaki 6 Agustus 1945 menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah dunia. (Gent SHKULLAKU / AFP) |
Serangan bom atom, ditambah masuknya Uni Soviet ke medan perang melawan Jepang pada Agustus 1945, memperburuk posisi Negeri Sakura.
Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito menyampaikan pidato yang menyatakan Jepang menerima Deklarasi Potsdam dan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.
Penandatanganan dokumen penyerahan resmi dilakukan pada 2 September 1945 di atas kapal perang USS Missouri. Peristiwa tersebut menandai berakhirnya Perang Dunia II setelah berlangsung selama enam tahun.
Sejak saat itu, penggunaan senjata nuklir dalam peperangan menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan internasional. Berbagai perjanjian mengenai pembatasan senjata nuklir lahir sebagai upaya mencegah tragedi serupa kembali terjadi.
Hingga kini, sejarah bom atom Hiroshima dan Nagasaki 6 Agustus 1945 masih dikenang sebagai pengingat akan besarnya dampak perang terhadap kemanusiaan. Peristiwa tersebut bukan hanya mengubah jalannya Perang Dunia II, tetapi juga menjadi pelajaran penting mengenai risiko penggunaan senjata pemusnah massal.