Sejarah Sumur Lubang Buaya yang Dikaitkan Peristiwa G30S

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 08:32 WIB
Sumur Lubang Buaya
Sejarah sumur lubang buaya kerap dibahas, terlebih menjelang peringatan 30 September terkait dengan peristiwa G30S. (Foto: Chris Woodrich)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejarah sumur lubang buaya kerap dibahas, terlebih menjelang peringatan 30 September terkait dengan peristiwa G30S.

Menurut catatan sejarah, Sumur Lubang Buaya menjadi lokasi ditemukannya jenazah sejumlah perwira Angkatan Darat yang menjadi korban dalam rangkaian peristiwa 30 September 1965. Simak sejarah sumur lubang buaya berikut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lokasi dan sejarah Sumur Lubang Buaya

Sumur Lubang Buaya berada di dalam Kompleks Monumen Pancasila Sakti, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Kawasan ini menjadi salah satu tempat bersejarah yang berkaitan erat dengan peristiwa G30S pada 1965.

Pada saat itu, kawasan Lubang Buaya belum seramai sekarang. Wilayah tersebut masih berupa area perkebunan dan lahan terbuka dengan permukiman yang relatif sedikit.

Kawasan ini berada tidak jauh dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Dalam rangkaian peristiwa 30 September 1965, sejumlah perwira Angkatan Darat diculik. Mereka dibawa ke kawasan Lubang Buaya.

Tujuh orang yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi, yaitu Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Suprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Pandjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Tendean, ditemukan di dalam sebuah sumur di kawasan tersebut.

Jenazah para perwira itu kemudian dievakuasi dari sumur pada 4 Oktober 1965. Peristiwa ini membuat nama Lubang Buaya semakin dikenal luas dan kemudian menjadi bagian penting dari narasi sejarah Indonesia mengenai peristiwa 1965.


Kenapa disebut Sumur Lubang Buaya?

Nama Lubang Buaya sebenarnya sudah digunakan untuk menyebut kawasan tersebut sebelum peristiwa 1965. Jadi, penyebutan Lubang Buaya bukan muncul karena peristiwa G30S.

Menurut Profil Budaya dan Bahasa Kota Administrasi Jakarta Timur yang diterbitkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, nama Lubang Buaya sudah dikenal jauh sebelum peristiwa G30S.

Nama "Lubang Buaya" dikaitkan dengan legenda mengenai keberadaan buaya putih di sekitar kawasan tersebut.

Setelah peristiwa 1965, nama Lubang Buaya kian lekat dengan sejarah G30S karena jenazah para perwira ditemukan di sumur yang berada di kawasan tersebut.


Kondisi terbaru Sumur Lubang Buaya

Saat ini, Sumur Lubang Buaya menjadi bagian dari Kompleks Monumen Pancasila Sakti di Jakarta Timur. Lokasi itu dipertahankan sebagai tempat bersejarah dan menjadi bagian dari kawasan wisata edukasi sejarah.

Pemerintah menetapkan Sumur Lubang Buaya sebagai cagar budaya peringkat nasional melalui SK Nomor 75/M/2019 pada 12 Maret 2019. Sementara Kompleks Monumen Pancasila Sakti telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.

Di sekitar sumur terdapat bangunan pelindung sehingga pengunjung dapat melihat lokasi tersebut dari area yang telah disediakan. Kompleks Monumen Pancasila Sakti juga menjadi lokasi penyelenggaraan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.

Keberadaan Sumur Lubang Buaya hingga saat ini menjadi pengingat atas salah satu peristiwa penting dan penuh kontroversi dalam sejarah Indonesia. Karena itu, kawasan tersebut memiliki fungsi sebagai tempat pembelajaran sejarah bagi masyarakat.

Demikian sejarah sumur lubang buaya singkat yang erat kaitannya dengan peristiwa G30S. Semoga bermanfaat!

(san/fef)
placeholder