Cara Menghitung Kapan 1.000 Hari Orang Meninggal dan Contohnya
Dalam tradisi Jawa, keluarga umum melakukan selamatan di hari ke-1.000 setelah seseorang meninggal untuk mendoakan mendiang.
Lantas, bagaimana cara menghitung 1000 hari orang meninggal? Adakah cara cepat mengetahuinya?
Dalam budaya Jawa, peringatan 1.000 hari setelah seseorang meninggal dikenal dengan istilah nyewu. Peringatan ini menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian selamatan untuk mengenang dan mendoakan orang yang telah meninggal.
Perhitungan nyewu tidak hanya melihat tanggal pada kalender Masehi. Dalam tradisi Jawa, perhitungan juga menggunakan hari dan pasaran, yaitu gabungan siklus tujuh hari dengan lima hari pasaran Jawa.
Cara hitung 1000 hari orang meninggal
Melansir dari situs detikjateng, cara menghitung 1000 hari orang meninggal adalah dengan mengalikan weton.
Dalam kalender Jawa dikenal tujuh hari dalam satu minggu, yaitu Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selain itu, terdapat lima pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Kombinasi tujuh hari dan lima pasaran menghasilkan 35 kombinasi yang dikenal sebagai weton. Siklus tersebut kemudian berulang setiap 35 hari.
Untuk menghitung hari ke-1.000, hari ketika seseorang meninggal dianggap sebagai hari pertama. Karena itu, yang perlu dihitung setelah hari wafat adalah 999 hari.
Rumus sederhananya:
999 ÷ 35 = 28 siklus, sisa 19 hari
Artinya, setelah 28 siklus atau 980 hari, perhitungan kembali pada hari dan pasaran yang sama dengan hari wafat. Selanjutnya, tinggal menghitung 19 hari berikutnya untuk mendapatkan hari ke-1.000.
Contoh perhitungan 1.000 hari
Misalnya seseorang meninggal pada Jumat Kliwon. Hari tersebut dihitung sebagai hari pertama.
Setelah melewati 28 siklus penuh, perhitungan kembali ke Jumat Kliwon. Kemudian, hitung 19 hari berikutnya:
1. Jumat Kliwon sebagai hari pertama
2. Sabtu Legi
3. Minggu Pahing
4. Senin Pon
5. Selasa Wage
6. Rabu Kliwon
7. Kamis Legi
8. Jumat Pahing
9. Sabtu Pon
10. Minggu Wage
11. Senin Kliwon
12. Selasa Legi
13. Rabu Pahing
14. Kamis Pon
15. Jumat Wage
16. Sabtu Kliwon
17. Minggu Legi
18. Senin Pahing
19. Selasa Pon
20. Rabu Wage sebagai hari ke-1000
Dengan demikian, berdasarkan contoh perhitungan tersebut, peringatan nyewu jatuh pada Rabu Wage.
Rangkaian selamatan orang meninggal
Peringatan 1000 hari sendiri merupakan bagian dari rangkaian selamatan orang meninggal yang dilakukan secara bertahap.
Dalam praktiknya, selamatan biasanya diisi dengan tahlilan, doa, zikir, pembacaan Al-Qur'an, dan kegiatan keagamaan lainnya. Berikut urutan yang umum dikenal:
1. Upacara kematian
Sebelum selamatan, dilakukan rangkaian pengurusan jenazah, mulai dari memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga menguburkan jenazah sesuai ajaran Islam.
2. Selamatan hari pertama
Selamatan dilakukan pada malam pertama setelah seseorang meninggal. Beberapa daerah melaksanakannya pada malam hari setelah salat Magrib atau Isya.
3. Selamatan tujuh hari
Dikenal sebagai tahlil pitung dinoan, selamatan ini dilakukan pada hari ketujuh. Kegiatannya biasanya berupa doa, zikir, pembacaan Yasin dan tahlil untuk mendoakan almarhum atau almarhumah.
4. Selamatan 40 hari
Selamatan dilakukan pada hari ke-40 dan biasanya digelar lebih besar dengan mengundang lebih banyak keluarga, tetangga, atau kerabat.
5. Selamatan 100 hari
Dikenal sebagai satus dino, selamatan ini kembali diadakan dengan doa, tahlil, dan kegiatan bersama keluarga serta masyarakat.
6. Selamatan satu tahun
Disebut pendhak pisan, peringatan ini dilakukan satu tahun setelah kematian. Kegiatannya dapat berupa doa, zikir, pengajian, dan makan bersama.
7. Selamatan dua tahun
Disebut pendhak pindho, peringatan dilakukan dua tahun setelah seseorang meninggal dengan kegiatan yang kurang lebih sama.
8. Selamatan 1.000 hari
Tahap terakhir dikenal sebagai nyewu atau sewune. Selamatan dilakukan pada hari ke-1.000 dan biasanya diisi dengan doa, zikir, pengajian, serta makan bersama.
Demikian cara menghitung 1.000 hari orang meninggal beserta contohnya. Semoga bermanfaat.
(sac/fef)