Dalam prospektus keterbukaan di Bursa Efek Indonesia, BWPT mengumumkan akan menawarkan 27 miliar saham biasa atau 85,71 persen dari modal disetor. Harga pelaksanaan rights issue tersebut sebesar Rp 390-411 per saham. Dengan begitu, perseroan akan mendapatkan dana sebesar Rp 10,53 triliun - 11,10 triliun. Setiap pemegang satu saham lama berhak atas enam saham HMETD ini.
Saham Baru yang diterbitkan dalam PUT I memiliki hak yang sama dan sederajat dalam segala hal termasuk hak atas dividen dengan saham yang telah disetor penuh lainnya. Jika pemegang saham tidak mengeksekusi saham baru ini, maka saham yang tersisa tersebut akan dibeli oleh PT Rajawali Capital International, PT BNI Securities, PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas dan PT Valbury Asia Securities.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur BW Plantation Kelik Irwantono mengatakan melalui rights issue ini, BWPT akan memiliki 100 persen saham di perusahaan kelapa sawit milik Rajawali Group. Dengan begitu, perseroan akan tercatat sebagai perusahaan kelapa sawit terbesar ketiga di Indonesia. "Lahan kami akan mencapai 419 ribu hektar dan akan cukup diperhitungkan sebagai perusahaan sawit berskala besar di Indonesia," katanya di Jakarta, Rabu (24/5).
Setelah sepekan, BEI menghentikan sementara saham BW Plantation, hari ini perdagangan saham kembali dibuka. Diskon harga 60 persen HMETD itu turut mengerek jatuhnya harga saham BWPT 24,61 persen ke level Rp 720 per saham. Masuknya Rajawali ke BWPT diperkirakan akan membuat saham perusahaan itu kian aktif diperdagangkan. Melihat rekam jejak sejumlah perusahaan yang pernah diakuisisi Rajawali Seperti PT Bentoel Internasional Tbk dan PT Semen Indonesia Tbk, salah satu orang terkaya di Indonesia itu bisa meraup keuntungan yang cukup besar dari penjualan saham tersebut.