Manajemen Medco melansir, buruknya kinerja disebabkan oleh turunnya harga rata-rata minyak yang dijualnya dari US$ 108,5 per barel menjadi US$ 106,3 per barel. "Tren ini mengikuti penurunan minyak dunia," ujar Presiden Direktur Medco Lukman Mahfoedz dalam siaran pers, Rabu (29/10).
Meskipun perusahaan besutan Arifin Panigoro ini sudah berhasil menekan 10 persen beban operasional ke angka US$ 61,1 juta, tetap tak mampu menggenjot laba bersih perseroan yang hingga akhir September 2014 berada di US$ 9,51 juta atau menurun sekitar 4,9 persen dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun lalu US$ 10 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyelesaian Proyek Senoro sudah mencapai 87% dan akan mencapai Mechanical Completion di awal 2015. Sementara konstruksi kilang Donggi Senoro LNG telah selesai dan saat ini sedang dalam tahap uji coba (commissioning). Nantinya akan disusul proyek-proyek lain seperti Block A, Simenggaris, Libya dan Tunisia di kurun waktu 2017 – 2019," tambah Lukman.
"Perseroan telah menunjukkan komitmen dengan terus mengembangkan pasar gas domestik dengan menandatangani dua Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan kedua perusahaan tersebut. Dimana pasokan gas akan digunakan untuk pembangkitan listrik di wilayah Kalimantan Utara dan Sumatera Selatan," kata Lukman.