"Rencana pembangunnya akan dilakukan tahun depan dengan target selesai selama 2 tahun. Kami optimistis bisa selesai di 2016," ujar Joseph Renyut, Advisor CMMI kepada CNN Indonesia, Selasa (11/11).
Untuk merealisasikan rencana itu, CMMI akan menggunakan dana dari keuangan internal perusahaan untuk menambah tungku pengolahan nikel sebanyak 20 unit. "Kami tidak pakai banyak fasilitas yang bertenaga listrik. Makanya hitung-hitungan investasi smelter CMMI terbilang murah," kata Joseph.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sekarang pasokannya baru 10 ribu per bulan atau 120 ribu per tahun nikel ore. Kedepannya mungkin bisa mencapai 400 ribu sampai 500 ribu ton per tahun nikel ore," katanya.
Ketika meresmikan beroperasinya smelter tersebut, Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam mengatakan larangan ekspor nikel mentah sudah harus diberlakukan sehingga industri dalam negeri bisa menikmati nilai tambah. "Larangan ekspor nikel mentah akan berdampak positif terhadap peningkatan harga nikel dari Indonesia. Sebab sekitar 30 persen kebutuhan nikel dunia dipasok oleh Indonesia. Dengan larangan itu maka Indonesia bisa ikut menentukan harga nikel di pasar dunia yang selama ini sangat didominasi oleh Tiongkok," ujar Nur Alam.
Kinerja Keuangan
Sepanjang Januari-September 2014, Modern Internasional membukukan pendapatan Rp 1,03 triliun naik 15,73 persen dibandingkan pendapatan pada periode yang sama di 2013 sebesar Rp 896,05 miliar. Pendapatan terbesar Modern Internasional berasal dari penjualan produk di gerai 7-Eleven sebesar Rp 697,6 miliar, diikuti penjualan produk industrial Rp 195,73 miliar, penjualan produk fotografi Rp 130,97 miliar, produk telekomunikasi Rp 3,99 miliar, dan pendapatan lain-lain Rp 8,89 miliar.
Meskipun pendapatan naik, namun laba bersih Modern Internasional justru turun 6,97 persen menjadi Rp 38,68 miliar dari sebelumnya Rp 41,58 miliar. Penurunan laba bersih perusahaan karena adanya peningkatan beban penjualan dan beban keuangan dalam arus kas perusahaan.