Pada Januari 2014, ICP dibuka pada level US$ 105,8 per barel dan terus merangkak naik hingga menyentuh harga tertinggi US$ 108,95 per barel pada Juni 2014.
Memasuki Juli 2014 kecenderungannya mulai turun ke level US$ 104,63 per barel dan terus anjlok hingga berada pada posisi US$ 75,39 per barel pada November 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya dengan selisih realisasi lebih rendah sebesar US$ 5,13 per barel, maka defisit APBNP 2014 berpotensi berkurang sekitar Rp 17,4 triliun hingga Rp 19,5 triliun.
Penyusutan defisit fiskal bisa lebih besar lagi jika tren penurunan ICP masih berlanjut pada Desember. Terlebih pemerintah telah memangkas belanja subsidi bahan bakar minyak (BBM) dengan menaikkan harga jual premium dan solar masing-masing sebesar Rp 2.000 per liter.
Melihat perkembangan ekonomi terkini, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menilai postur APBN 2015 perlu dilakukan penyesuaian. Terlebih banyak program kerja Presiden Joko Widodo yang belum terakomodasi dalam neraca fiskal rancangan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.
"untuk mengakomodasi berbagai prioritas, inisiatif, program dan proyek pemerintah yang baru, pemerintah akan segera melakukan revisi APBN 2015, termasuk realokasi penghematan yang berasal dari penyesuaian harga BBM bersubsidi. Kami berencana untuk mengajukan revisi APBN 2015 ke DPR pada awal 2015," jelas Bambang pada Investor Gathering, Rabu (3/12).