Robert Pakpahan, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, mengatakan pengalaman Indonesia tiga kali menerbitkan samurai bond membuatnya yakin obligasi RI sudah cukup dikenal oleh investor Jepang. Karenanya, dia menilai tidak perlu lagi penjaminan dari JBIC pada samurai bond berikutnya.
"Ada studi mengatakan, tidak pakai guarantee juga laku. Tapi jatuhnya memang lebih mahal," ujar Robert saat ditemui di Gedung Djuanda Kementerian Keuangan, Rabu (3/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Robert, kesuksesan Indonesia melakukan tiga kali lelang samurai bond mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor Jepang atas pengelolaan utang Pemerintah Indonesia, terutama setelah dicapainya peringat layak investasi (investment grade).
Namun belakangan, lanjut Robert, JBIC merekomendasikan agar pemerintah Indonesia menerbitkan samurai bond tanpa penjaminan guna melihat respon pasar Jepang. "Kalau yang bergaransi, kemungkinan besar kan pasti laku. Kalau nanti mereka lihat yang non-garansi laku juga, yield-nya bagus, tahun berikutnya kita berani yang non-garansi lebih banyak," ujarnya.
Namun Robert mengatakan, untuk awal, Pemerintah hanya memberikan porsi sebesar 20 persen untuk obligasi non-garansi ini guna menghindari risiko gagal. "Takutnya kalau tidak pakai garansi dan gagal, tidak acceptable," ujarnya