Setelah dievuluasi baru diputuskan apakah kapal tersebut bisa kembali melaut atau tidak. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Gelwynn Jusuf mengatakan evaluasinya mulai dari aspek kepatuhan administrasi hingga kepatuhan hukum.
"Tidak hanya kapalnya secara resmi, tapi juga perusahaannya, kita lihat berapa jumlah kapal yang dimilikinya, dokumen secara dasarnya, dan juga legal form-nya," ujar Gelwynn di Jakarta, Jumat (5/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lihat historical landing-nya, benar enggak mereka mendaratkan hasil tangkapan ke pelabuhan pangkal, atau jangan-jangan malah dibawa ke luar negeri," ujarnya.
"Kami melihat perusahaan ini bill of sale-nya ada atau tidak, jangan-jangan hanya kepunyaan Mr X di luar negeri, tapi mengatasnamakan perusahaan orang Indonesia," ujarnya.
Untuk proses evaluasi tersebut, Kementerian Kelautan akan bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan dan Dirjen Pajak. Proses evaluasi tersebut pun diusahakan akan selesai hingga 30 April 2015, di mana aturan moratorium akan berakhir.
"Yang memenuhi ketentuan kita, yang izinnya ada dan jelas kepemilikannya meskipun itu milik asing lalu rajin bayar pajak, nah itu yang akan langsung dikasih izin, kalau tidak ada yang memenuhi ya kita enggak kasih izin," ujarnya.