Hal tersebut disampaikan Amien saat mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, Menko Perekonomian Sofyan Djalil dan pejabat lain mengunjungi lapangan tersebut hari ini.
“Saat ini, fokus utama adalah untuk segera menyelesaikan fasilitas produksi penuh yang saat ini telah mencapai 92,5 persen, hingga dapat mencapai produksi 165 ribu barel pada pertengahan 2015,” kata Amien seperti dikutip dalam siaran pers Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Jumat (5/12)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kegiatan pengeboran bisa selesai lebih cepat dari jadwal. Kegiatan konstruksi serta commissioning untuk fasilitas produksi utama dan infrastruktur terkait terus berlangsung, dengan melibatkan lebih dari 8.600 pekerja di lapangan,” kata mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut.
Pembangunan fasilitas dibagi ke dalam lima kontrak EPC (engineering, procurement, and construction/rekayasa, pengadaan, dan konstruksi), yakni fasilitas produksi utama (Central Production Facility/CPF), pipa darat (onshore) 72 km, pipa laut (offshore) dan menara tambat (mooring tower), Floating Storage Off-loading (FSO), serta fasilitas infrastruktur.
Kontrak kerja sama Blok Cepu ditandatangani pada 17 September 2005 dengan EMCL sebagai operator. EMCL, anak perusahaan dari Exxon Mobil Corporation, memegang 45 persen saham partisipasi, bersama PT Pertamina EP Cepu yang memegang 45 persen saham dan Badan Kerja Sama PI Blok Cepu (BKS) dengan 10 persen saham. Rencana pengembangan lapangan disetujui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada 15 Juli 2006. Cadangan minyak di Lapangan Banyu Urip diperkirakan sebesar 450 juta barel.