Tiga perusahaan yang dipercaya mengerjakan rekayasa pengembangan kapasitas produksi kilang tersebut adalah Saudi Aramco untuk kilang Dumai, Cilacap, dan Balongan. China Petroleum & Chemical Corporation (China Sinopec) untuk kilang Plaju, serta JX Nippon Oil & Energy Corporation untuk mengembangkan kilang Balikpapan.
“Melalui MoU ini, Pertamina ingin meningkatkan kapasitas kilang dari yang saat ini hanya mampu memproduksi 820 ribu barel per hari (BPH). Sehingga bisa mengimbangi kebutuhan konsumsi bahan bakar nasional yang mencapai 1,6 juta BPH. Kami targetkan upgrading bisa selesai dalam empat tahun ke depan atau 2020,” ujar Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi di Jakarta, Rabu (10/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam MoU tersebut kami harus sudah bisa melakukan review terhadap feasibility studies serta merumuskan financing dan business structure dalam 6 bulan. Setelah itu perlu dibuat head of agreement dan front end engineering design, setelahnya baru engineering, procurement and construction," kata mantan President Direktur PT Badak NGL tersebut.
"Tujuannya untuk merealisasikan visi kemandirian energi nasional sesuai dengan arahan Pemerintah," ujar Dwi.
Pertamina saat ini mengoperasikan sebanyak enam kilang yaitu kilang Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Kasim sesungguhnya memiliki kapasitas mengolah minyak mentah sampai 1,05 juta barel. Namun karena karena teknologi produksi yang dimiliki kilang-kilang tersebut sudah tua, Pertamina hanya mampu mengolah 800 ribu barel saja.