Seperti diketahui, meningkatnya inflasi tersebut disebabkan oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp 2 ribu per liter pada 18 November lalu.
Sementara dalam rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) terakhir pada Kamis (11/12), yang juga RDG terakhir tahun ini, bank sentral memutuskan untuk tidak mengubah BI rate dan juga suku bunga deposito dan lending facility masing-masing sebesar 7,75 persen, 5,75 persen, dan 8 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mandiri Sekuritas menyatakan BI merasa mampu mengelola tekanan inflasi dalam jangka waktu pendek setelah adanya kenaikan harga BBM serta menjaga defisit neraca berjalan (CAD) ke level yang berkesinambungan (sustainable).
"Kami berbagi pandangan yang sama dan memprediksi akan ada tekanan inflasi tambahan pada bulan terakhir tahun ini," tulis kedua analis tersebut dalam riset yang diterima, Jumat (12/12).
Sebagai tambahan, lanjut Aldian dan Leo, untuk 60 persen dampak langsung kenaikan BBM, berdasarkan kalkulasi akan ada dampak tahap kedua yang akan berdampak terhadap beban transportasi. Ke depannya, naiknya harga makanan juga akan mengikuti kenaikan inflasi.
"Kami memprediksi inflasi akan mencapai 7,5-7,7 persen pada akhir 2014 sebelum akhirnya mulai menjadi normal ke 5,1 persen pada 2015. Sementara itu, BI memprediksi kenaikan beban transportasi sebesar 7,7-8,1 persen," ujar mereka dalam riset.