"Yang paling penting jangan sampai panik dalam negri. BI dan OJK tetap harus memperhatikan keadaan-keadaan di pasar, jangan sampai ada kepanikan, yakinkan pada pengusaha, pelaku ekonomi," kata Raden saat ditemui di kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta (15/12).
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah ditutup melemah 1,98 persen di level Rp 12.714 per dolar AS pada akhir perdagangan kemarin, Senin (15/12). Posisi rupiah saat ini merupakan yang terendah sejak 1998 yang sempat menyentuh level Rp16.650 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Raden, pemulihan kondisi ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di AS sangat kokoh. Di sisi lain inflasi yang dialami AS juga termasuk rendah akibat harga minyak dunia yang turun sehingga mengakibatkan biaya juga turun.
Pada kesempatan berbeda, Head of Research Trimegah Securities Sebastian Tobing memperkirakan Bank Indonesia (BI) pada tahun depan akan kembali menaikkan suku bunganya (BI rate) sebesar 25 basis poin (bps) dari posisi saat ini 7,75 persen. .
"Kami perkirakan BI rate naik 25 bps ke level 8 persen pada tahun depan," ujarnya.
Sebastian mengatakan faktor utama yang membuat otoritas moneter menaikkan BI rate karena mengantisipasi rencana Bank Sentral AS (The Fed) menaikan suku bunga acuannya pada tahun depan. "Kami perkirakan suku bunga the Fed akan naik menjadi 1,2 persen pada tahun depan," prediksi dia.
Dampaknya, lanjut Sebastian, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun depan akan melambat. "Tergantung pada investasi pemerintah seberapa cepat untuk diperbaiki, misal BKPM untuk permudah investasi. Tetapi kami perkirakan GDP akan melambat di second half tahun depan," jelasnya.