Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI) Reza Priyambada mengatakan sebagian pelaku pasar melihat pergantian direksi Garuda memiliki efek yang cukup negatif.
“Apalagi ketika ditinggal Emirsyah Satar, Garuda Indonesia meninggalkan kerugian dan utang yang cukup besar,” ujarnya ketika dihubungi, Senin (15/12) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Garuda dinilai mengalami kerugian yang besar akibat naiknya harga avtur di akhir tahun lalu hingga semester pertama tahun ini serta melakukan langkah agresif ekspansi pesawat. Sampai akhir September 2014, jumlah pesawat yang dioperasikan Garuda mencapai 160 unit dengan rata-rata pertumbuhan pesawat per tahun 22,5 persen dalam tiga tahun terakhir ini.
Biaya bahan bakar memang menjadi komponen beban terbesar yang dipikul Garuda. Sepanjang Januari-September 2014, kontribusi pembelian avtur meningkat 39 persen dari total biaya operasi Garuda.
Dia memproyeksikan kinerja Garuda bakal berfluktuasi. Meski harga minyak anjlok menurutnya perlu dicari tahu apakah pengadaan bahan bakar Garuda menggunakan kontrak dengan harga tetap atau tidak.
“Kalau tetap bagus, tapi kalau fleksibel bisa bahaya,” ujarnya.
Terobosan Direksi
Reza menilai sampai akhir tahun ini, kinerja Garuda tidak akan jauh berbeda. Menurutnya harus ada efisiensi dan peningkatan pendapatan dengan membuka rute baru. Perseroan juga harus menghindari melakukan kegiatan yang justru memboroskan keuangan.
"Investor masih tetap menanti terobosan baru dari Garuda. Jika sesuai keinginan pasar, maka saham Garuda bisa kembali naik," kata Reza.