"Rusia itu dianggap emerging economic seperti kita. Pasti ada imbasnya ke kita," kata Bambang di kantornya, Selasa (16/12).
Menkeu mengatakan kenaikan signifikan suku bunga acuan Bank Sentral Rusia pasti akan mempengaruhi pergerakan uang di dunia. Kondisi ini mirip dengan situasi pasar global pada pertengahan 2013 ketika Amerika Serikat menghentikan kebijakan stimulusnya (tapering off).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bambang, depresiasi mata uang wajar terjadi di tengah penguatan ekonomi Amerika Serikat. Dia menilai hal ini sekaligus menguji fundamental rupiah terhadap benturan krisis.
Kebangkitan dolar AS hari ini sempat membuat rupiah tembus Rp 13.000 per dolar AS. Tekanan serupa juga terjadi pada ruble yang direspon oleh Bank Sentral Rusia dengan menaikkan suku bunga acuan dari 10,5 persen menjadi 17 persen.