Selain membangun dan mengelola Senayan City, Greenwood dikenal dengan portofolio lainnya di Jakarta seperti gedung perkantoran TCC Batavia, Kuningan City, The Peak, Emporium Pluit dan LTC Glodok.
Corporate Secretary Greenwood Sejahtera Linda Halim mengatakan manajemen optimistis mampu meraih target yang melonjak dua kali lipat tersebut. Linda mengatakan perseroan memiliki rencana menggarap beberapa proyek prestisius di Jakarta dan Surabaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Linda menyebut proyek yang akan dikembangkan tersebut bernama TCC Batavia Tower II untuk menara perkantoran di Jakarta. Kemudian di Surabaya bernama Capital Square untuk proyek mix used, dan SBY2 untuk apartemen.
Perseroan memiliki konsep pengembangan yang mengutamakan cakupan lebih luas bagi segmen pembeli maupun penyewa. Selain itu adalah marjin yang lebih tinggi, durasi sewa yang lebih panjang, nilai properti yang terjaga di level tinggi dan bertumbuhnya segmen pasar high-end.
Direktur Keuangan Greenwood Bambang Dwi Yanto mengatakan dana belanja modal berasal dari penerbitan obligasi berkelanjutan perseroan saat ini sebesar Rp 500 miliar yang secara total ditargetkan mencapai Rp 1,5 triliun.
“Selain itu, kita juga mempunyai sumber dana dari kas internal dan pinjaman bank,” ujarnya. Penjualan perseroan hingga Juni 2014 tercatat sebesar Rp 124,56 miliar. Sementara laba bersih Greenwood mampu mencapai Rp 110,33 miliar dengan total aset perseroan hingga periode tersebut tercatat Rp 2,2 triliun.
Dampak Rupiah
Manajemen Greenwood menyatakan dampak pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum dirasakan perseroan pada tahun ini. Perseroan memperkirakan dampak pelemahan rupiah baru akan dirasakan pada 2015 karena bahan baku proyek yang diimpor.
“Proyek baru mulai tahun depan. Kebutuhan proyek yang diimpor seperti lift, eskalator, dan beberapa bahan bangunan,” ujarnya.
Linda Halim menambahkan meski terkena dampak negatif terkait impor bahan baku proyek, perseroan masih terbantu oleh biaya sewa ruang perkantoran. Alasannya, biaya sewa perkantoran yang dimiliki perseroan menggunakan dolar AS.
"Biaya sewa perkantoran kita US$ 35-40 per meter persegi. Kalau seratus meter bisa US$ 3.500-4.000. Kita masih terbantulah dengan biaya sewa tersebut," ujarnya.
Sekedar informasi, pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap USD belakangan ini sempat mencapai titik puncaknya di level Rp 12.900 per dolar AS. Namun, setelah adanya intervensi dari Bank Indonesia, kurs tengah rupiah kembali menguat menjadi Rp 12.565 per dolar AS.