Mengacu pada laporan keuangan PLN per 30 September 2014, total utang bank dan obligasi jangka panjang PLN diketahui mencapai Rp 70,7 triliun atau naik 6,42 persen dari periode yang sama tahun lalu di angka Rp 66,4 triliun. Sementara utang bank dan obligasi jangka pendek yang harus dilunasi tercatat sebesar Rp 14,67 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 8,38 triliun.
Jika digabung dengan utang lain-lain, total liabilitas PLN sampai September 2014 tercatat sebesar Rp 471,06 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 462,64 triliun atau naik 9,02 persen. Sementara kas PLN sampai akhir periode kuartal III 2014 tersebut tercatat hanya sebesar Rp 24,67 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nur Pamudji, Direktur Utama PLN yang masih menjabat sampai hari ini pernah mengatakan perseroan membutuhkan sedikitnya Rp 400 triliun untuk membangun pembangkit-pembangkit yang ditugaskan kepadanya. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ketenagalistrikan tersebut ditargetkan bisa membangun pembangki 12 ribu MW, sedangkan 23 ribu MW sisanya akan diserahkan ke swasta.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebelumnya memperkirakan kebutuhan dana sebesar Rp 980 triliun untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik menjadi 85,7 GW hingga 2019. Rencananya dana itu akan ditutup menggunakan APBN sebesar Rp 100 triliun, PLN Rp 545 triliun dan sisanya investasi swasta Rp 435 triliun. Angka investasi yang diharapkan keluar dari PLN tersebut, jauh lebih besar dibandingkan estimasi Nur Pamudji.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Andrinof Chaniago belum lama ini menjelaskan pemerintah telah menyiapkan donor yang siap memberikan pinjaman dan pagu untuk PLN 2015 sebesar Rp 205,6 triliun. Artinya, PLN butuh mencari tambahan sebesar Rp 339,4 triliun, yang diharapkan bisa diperoleh dari penyertaan modal negara (PMN) dan sebagian dari penerusan pinjaman luar negeri.
"Ini agar kondisi PLN menjadi sehat karena debt equity rasio PLN saat ini kondisinya kronis sekitar 257 persen," jelas Andrinof.
Pemerintah, kata Andrinof, menganggarkan PMN sekitar Rp 134 triliun untuk PLN selama periuode 2015-2019.