"Inflasi tahunan bisa mencapai 11 persen di akhir 2014, melebihi angka 10 persen untuk pertama kalinya sejak krisis finansial pada 2008/2009," ujar Asisten Presiden Rusia di bidang ekonomi, Andrei Belousov, Kamis (25/12).
Seperti dilansir Reuters, nilai mata uang Rusia, rubel, menyentuh titik terendah seiring dengan jatuhnya harga minyak dunia. Selain itu, sanksi dunia barat akibat krisis Ukraina membuat Rusia tak mungkin melakukan pinjaman dari pasar modal Uni Eropa. Kontraksi ekonomi Negeri Beruang Merah kini mengancam reputasi Putin, setelah bertahun-tahun mengalami kemakmuran di bawah kendalinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Suku bunga acuan telah ditingkatkan demi menstabilkan situasi pada pasar valuta asing. Masa-masa pelemahan itu, menurut kami, sudah terlewati. Rubel kini semakin menguat," ujar Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov di hadapan parlemen, Kamis (25/12). Anton juga menyatakan bahwa suku bunga akan segera diturunkan jika situasi tetap stabil.
S&P memperingatkan dalam pekan ini bahwa akan ada 50 persen kemungkinan pihaknya akan memangkas peringkat kredit Rusia dalam waktu 90 hari mendatang.
Sementara, lembaga pemeringkat Moody's juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Rusia berpotensi terkontraksi hingga 5,5 persen pada 2015 dan tiga persen pada 2016 karena pelemahan rubel serta anjloknya harga minyak.
Demi menghindari penurunan peringkat tersebut, pemerintah Rusia mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan pemeringkat kredit untuk menjelaskan aksi yang bakal ditempuh. Anton Siluanov mengatakan bahwa defisit anggaran tahun depan akan lebih besar 0,6 persen dari PDB.