Analis PT KDB Daewoo Securities Indonesia Akhmad Nurcahyadi mengatakan, terlepas dari kondisi ketidakpastian aktivitas perekonomian yang telah melemahkan permintaan pasar CPO dunia, sudut pandang netral terhadap industri CPO dalam negeri tidak berubah.
"Hal itu terjadi seiring dengan potensi permintaan yang kami perkirakan cenderung terjaga pada tahun depan dan kemungkinan pelemahan," ujarnya dalam riset, Rabu (24/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut data Kementerian Pertanian, Indonesia memiliki area perkebunan CPO seluas 8 juta hektar. Angka tersebut mengalami penaikan sebanyak dua kali lipat sejak 2000 dan diperkirakan akan mencapai 13 juta hektar pada 2020.
Meskipun demikian, Akhmad menilai dan mengakui pergerakan harga dan kondisi industri masih belum sepenuhnya pulih. Bahkan, menurutnya kenaikan harga CPO yang terjadi di Malaysia dinilai tidak akan berlanjut hingga akhir tahun depan.
"Harga masih akan terkoreksi sebelum berpotensi mengalami kenaikan akibat penerapan kebijakan baru pemerintah Malaysia," ujarnya.
Akhmad mengatakan harga CPO untuk pengiriman Februari 2015 naik mencapai 2.210 ringgit per ton. Adapun pasar Indonesia menurutnya masih akan bergantung pada pemulihan pasar China dan India.
"Terlepas dari berhasil atau tidaknya kebijakan tersebut mendorong permintaan dari pasar, kami juga melihat kondisi yang sama di Malaysia yang telah memperpanjang kebijakan pembebasan pajak ekspor CPO hingga Februari 2015," ujarnya.
Adapun pada tahun depan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi CPO akan mencapai 32.5 juta ton.
"Dengan perkiraan pergerakan harga CPO pada rentang US$ 740 per ton hingga US$ 800 per ton, investor sebaiknya tetap mencermati pergerakan saham perusahaan CPO pada 2015," ujarnya.