"Tahun ini untuk Natal dan Tahun Baru, permintaan parsel kita menurun kira-kira 40 persen dibanding tahun lalu," ujar Ari, pemilik gerai Naquita Parsel di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (26/12).
Ari mengatakan kenaikan harga BBM telah memicu kenaikan harga barang dan jasa sehingga harga jual parsel menjadi lebih mahal. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga melemahkan daya beli masyarakat sehingga permintaan turun drastis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ari, kenaikan harga parcel pada tahun ini setara dengan kenaikan harga BBM bersubsidi, yakni rata-rata naik 30 persen. Untuk menyiasati penjualan agar sesuai dengan kemampuan membeli masyarakat, Ari membuat parcel dengan tingkat harga berjenjang.
Ari mengaku biasanya pendapatan kotor yang diterimanya pada Natal dan Tahun Baru bisa mencapai Rp 100 juta. Dengan merosotnya penjualan hingga 40 persen, Ari pesimistis bisa meraup omset yang sama pada tahun ini.
"Selama 15 tahun saya memiliki usaha parsel, penurunan penjualannya hanya pada saat tersebut dan tahun ini. Namun angka penurunan penjualan pada saat pelarangan KPK tersebut tak sebesar sekarang. Saya tak ingat angkanya tapi yang jelas lebih besar dibanding tahun ini," tuturnya.
Dia berharap penjualan parsel kembali meningkat pada tahun depan seiring dengan meredanya efek berganda dari kenaikan harga BBM. "Kalau ekonomi terus memburuk, konsumsi turun, bisnis kita juga tidak akan bisa jalan," katanya.