Hal tersebut menurut Sudirman untuk meredam keluhan para pengusaha SPBU anggota Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) yang mengkhawatirkan penerapan subsidi tetap hingga wacana penghapusan bensin RON 88 atau premium hanya akan mengurangi penjualan BBM Pertamina yang menjadi nadi bisnis mereka.
“Pemerintah mempertimbangkan memberi margin lebih baik kepada pengusaha SPBU, karena selama ini margib mereka sangat minim,” ujar Sudirman di Jakarta, Selasa (30/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Margin diperbaiki agar pelayanan lebih baik, dengan cara itulah pemerintah membekali pengusaha SPBU untuk bersaing,” kata Sudirman yang enggan menyebutkan berapa margin baru yang diberikan untuk pengusaha SPBU.
“Sekarang ini margin kami hanya Rp 210 per liter. Kami dulu bisa untung karena jualan bensin dengan oktan RON 88, kompetitor tidak ada. Nah, kalau sama-sama jualan RON 92, kami bisa kalah. Kalau ini terjadi bisa ada liberalisasi," ujar Ismeth.
Dia menjelaskan anggota Hiswana Migas saat ini ada sekitar 5.300 dan merekalah yang menyalurkan BBM ke masyarakat. Menurutnya jika nanti wacana penghapusan premium tersebut diluncurkan, maka sebagian konsumen akan beralih ke SPBU asing seperti Shell dan Total.
Sementara ketika dikonfirmasi, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengaku akan segera mengumpulkan anggota Hiswana Migas yang menjadi mitra pendistribusian BBM bersubsidi ke masyarakat untuk membicarakan lebih lanjut hal tersebut.
“Pengusaha SPBU kan mitra Pertamina, maka kami akan duduk bersama. Karena itu merupakan tanggung jawab Pertamina untuk bisa memperkuat mereka bersaing dengan siapa pun,” kata Dwi.