"Kita inginnya Rp 2,5 triliun tapi itu pun juga kurang sesuai dengan kebutuhan kita," ujar Ketua Komite Tetap Pengembangan Pasar Pertanian Kamar Dagang dan Industri, Karen Tambayong, di Jakarta, Jumat (9/1).
Menurut Karen, penambahan anggaran bagi benih-benih lokal ini sangat penting agar Indonesia tak tergantung lagi dengan benih impor atau benih yang diimplementasikan oleh penanaman modal asing (PMA). Adanya hal ini justru berimbas terhadap tingginya harga produk hortikultura yang dikonsumsi masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usaha implementasi benih yang dikelola oleh penanaman modal asing dan kebutuhan benih yang diimpor ini dinilai Karen sangat merugikan petani hortikultura karena harus membeli benih dengan harga yang cukup tinggi. Ia mencontohkan, dengan total pembelian benih yang misalnya senilai Rp 1 triliun, nilai harga akhirnya bisa jadi senilai berkali-kali lipat karena ada tambahan-tambahan biaya ritel lainnya.
Karen mengatakan bahwa susahnya pengusahaan ini disebabkan karena kultur pengusahaan benih yang membutuhkan investasi banyak dan masa permuliaan yang cukup lama. Kadin mengimbau agar pemerintah segera mengalokasikan dana lebih agar pengusahaan benih-benih lokal dapat tumbuh.
"Kalau misalkan pengusahaan ini berhasil kita bisa menekan harga pangan lebih murah lagi. Kan hortikulltura ini sumber gizi juga," katanya. (ded/ded)