"Tadi malam orang saya protes, karena ratusan kilo lobster harus dilepas ke laut karena peraturan ini. Di Twitter banyak orang marah-marah kasar," ujar Susi seperti dikutip dari akun Twitternya, Minggu malam (18/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya tidak berani keluarkan aturan, 5 tahun lagi kepiting akan habis begitu juga dengan lobster. Sebelum semua terlambat lebih cepat lebih baik," kata Susi saat dihubungi.
Ia mencontohkan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai salah satu daerah pengekspor lobster terbesar di Indonesia. Menurutnya rata-rata NTB mengekspor 5 juta ekor lobster dengan bobot 20 gram per ekor atau ukuran kecil dalam kurun waktu satu tahun ke Vietnam. Lobster tersebut dihargai Rp 100 ribu per kilogram.
"Harga baby lobster tadi hanya Rp 100 ribu per kilogram, kalau itu ditunggu besar dengan ukuran 300 gram dikalikan 5 juta ekor dengan harga Rp 500 ribu per kilogram, maka jadi lebih besar untungnya," jelas Susi.
Sebelumnya, beberapa kebijakan Susi Pudjiastuti yang dinilai agresif menerima beberapa tentangan. Termasuk saat dirinya melarang ekspor komoditas kepiting telur tersebut. Ia mengaku mendapat ancaman berbau mistis dari orang-orang yang merasa dirugikan atas kebijakannya itu. (Baca: Larang Ekspor Kepiting Telur, Menteri Susi Diancam Santet)
"Ada yang sms saya caci-maki dari Kalimantan, dia bilang saya mau disantet segala. Bahkan katanya tujuh turunan karena melarang kepiting bertelur diekspor," ungkap Susi saat rapat koordinasi dengan 338 nakhoda kapal pengawas di Gedung Mina Bahari I, Jakarta, Selasa (13/1). (gir/gir)