“Saya tidak setuju dengan proyeksi IMF yang memangkas proyeksi pertumbuhan dunia. Saya lebih setuju dengan apa yang dikatakan oleh Menteri Keuangan. Saya percaya pertumbuhan Indonesia bisa mencapai 6 persen atau paling tidak 5,9 persen jika semua berjalan baik,” ujar Jim dalam paparan bersama Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Selasa (27/1).
Jim yang juga mantan Chairman Goldman Sachs Asset Management mengatakan IMF terkesan panik dengan merevisi prognosa ekonomi hanya karena pelemahan harga minyak dunia. Padahal, lanjutnya, masih banyak faktor lain yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan kebijakan stimulus bank sentral Eropa sebesar 60 miliar euro tidak akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok bakal menghambat performa Indonesia.
Sebagai informasi, target pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 dipatok sebesar 5,8 persen. Namun, dalam pembahasan revisi neraca tersebut, Komisi XI DPR dan pemerintah menyepakati koreksi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,7 persen.
Skenario peseimistis juga tergambar pada revisi asumsi makro ekonomi lain, seperti kurs yang ditetapkan sebesar Rp 11.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dan inflasi 5 persen. (ags/ags)